Oleh : Hariyanto
Mari kita perhatikan pentigraf karya Bunda Endang Dres berikut ini :
GAGAL PENTAS
Oleh Endang DRES
Seperti biasanya Padukuhan wilayah kami tiap tanggal 17 Agustus menyelenggarakan upacara dengan pembina upacara Dukuh kami.
Pagi itu Bunga seorang instruktur senam juga budayawan ingin tampil totalitas usai upacara HUT ke 80 RI. Bunga yang cantik mengenakan kostum nenek jadul yaitu berkain kebaya, menggendong "kêcohan" tidak lupa makan sirih lalu membersihkan dengan segenggam tembakau yang masih ditahan di mulutnya. Bunga berjalan keluar hendak naik motor menuju tempat upacara. Namun pandangan berkunang- kunang berkeringat dingin dan lemas tak berdaya. Oleh keluarganya dibawa ke UGD terdekat. Hasil pemeriksaan medis ternyata keracunan tembakau yang dipakai untuk "susuran".
Dokter memberikan pertolongan dengan gesit akhirnya terselamatkan. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00
Upacara telah selesai. Hatinya kecewa dan sedih karena pusingnya belum hilang. Ih...namanya juga salah tembakau ternyata yang dipakai tembakau untuk rokok.
Astaghfirullah…
Pentigraf “Gagal Pentas” ini sudah memiliki fondasi cerita yang kuat dan menghibur, namun ada beberapa masukan berikut yang bisa membuatnya lebih menarik lagi.
Pentigraf ini sudah benar strukturnya 3 paragraf, tokoh dan alurnya jelas dan begitu lancar penuturannya. Hal mengesankan seperti ini biasanya didapat jika idenya diperoleh dari kisah nyata. Penulis Endang Dres berhasil menyajikannya dalam bentuk pentigraf.
Catatan Pertama tentang struktur pentigraf. Secara umum, pentigraf terdiri dari tiga paragraf mempunya fungsi yang berbeda:
1. Paragraf pertama: pengantar atau latar cerita
2. Paragraf kedua: konflik atau masalah utama
3. Paragraf ketiga: penyelesaian, twist, atau penutup yang mengejutkan
Struktur ini penting untuk dipegang dan dijadikan pedoman setiap kali menulis sebuah pentigraf. Contoh kasus di atas adalah salah penempatan kalimat dalam struktur pentigraf.
Kalimat "Hasil pemeriksaan medis ternyata keracunan tembakau yang dipakai untuk 'susuran'" mengandung unsur pengungkapan, sehingga secara struktur lebih cocok ditempatkan di paragraf ketiga sebagai bagian dari twist atau penyelesaian. Jika kalimat tersebut dimunculkan terlalu awal (di paragraf kedua), maka ketegangan cerita bisa berkurang karena pembaca sudah mengetahui penyebabnya sebelum klimaks tercapai.
Sebagai alternatif, paragraf kedua bisa fokus pada gejala yang dialami Bunga misalnya pandangan berkunang-kunang, keringat dingin, dan dibawa ke UGD tanpa langsung mengungkap penyebabnya. Lalu, paragraf ketiga bisa menjadi momen “ jawaban “ ketika dokter mengungkap bahwa Bunga keracunan tembakau rokok, bukan tembakau susuran. Ini akan memperkuat efek kejutan dan membuat twist lebih terasa.
Disarankan memindahkan kalimat tersebut ke paragraf ketiga akan membuat alur cerita lebih tajam dan sesuai dengan kaidah penulisan pentigraf.
Berikut saran revisinya
GAGAL PENTAS
Oleh Endang DRES
Seperti biasanya, Padukuhan wilayah kami setiap 17 Agustus menyelenggarakan upacara kemerdekaan dengan pembina upacara Dukuh kami. Tahun ini terasa istimewa karena Bunga, seorang instruktur senam sekaligus budayawan, berencana tampil totalitas dalam balutan kostum nenek zaman dulu: berkain kebaya, menggendong kêcohan, dan membawa sirih serta tembakau sebagai pelengkap peran.
Pagi itu, Bunga bersiap menuju lokasi upacara. Namun belum sempat menyalakan motor, tubuhnya mendadak lemas, berkeringat dingin, dan pandangan berkunang-kunang. Keluarganya panik dan segera membawanya ke Unit Gawat Darurat terdekat. Upacara tetap berlangsung, tetapi Bunga terbaring tak berdaya, kecewa karena gagal tampil dalam momen yang telah ia persiapkan dengan sepenuh hati.
Menjelang siang, dokter menyampaikan hasil pemeriksaan: Bunga mengalami keracunan tembakau. Ternyata, tembakau yang ia gunakan bukan untuk susuran, melainkan tembakau rokok yang lebih keras dan berbahaya jika dikunyah. Ia hanya bisa tersenyum pahit sambil bergumam, “Astaghfirullah... salah tembakau.”
Catatan kedua, membuat twist bukan sekedar menjawab persoalan atas konflik di paragraf ke 2, namun tambahkan kejutan berupa dialog monolog dari “ tokohnya.” Di bagian saran revisi ini dialog berupa ucapan Bunga yang bergumam “Astaghfirullah... salah tembakau.” Ini adalah dialog fisik, bisa juga berbentuk dialog batin. Pernyataan kalimat langsung seperti ini sangat penting ditulis sebagai twist karena yang mengandung refleksi dari tokohnya. Refleksi dalam sebuah pentigraf untuk menunjukkan perubahan sifat atau sikap yang lebih baik dari sang tokoh.
Hal demikian sering dilakukan oleh pentigrafis senior, kalau disini bisa dilihat pentigraf yang ditulis Bunda Telly dan kawan- kawan. Lihat bagian akhir paragraf ke 3 nya, sering berupa dialog. Mengapa itu terjadi ? Karena dialog monolog itu cara paling mudah untuk menjelaskan perubahan yang terjadi terutama untuk menunjukkan sifat dan sikap akhir dari sang tokoh.
Demikian sekedar 2 catatan dari Pentigraf “Gagal Pentas” karya Endang Dres. Semiga bermanfaat. Terus semangat menulis pentigraf.
Bagu Loteng, 26 Agustus 2026.