Selasa, 26 Agustus 2025

Pentigraf : Senyum di Balik Rompi Orange



Oleh : Hariyanto

Pagi itu, kantor megah di pusat kota mendadak ramai bukan karena rapat penting, tapi karena penyergapan KPK. Seorang pejabat tinggi yang selama ini dielu-elukan karena “prestasi pembangunan” digiring keluar dengan rompi oranye. Di balik meja kerjanya yang mewah, ditemukan bukti suap ratusan miliar, lengkap dengan daftar nama yang ikut menikmati remah-remah kekuasaan. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau busuk pengkhianatan.

 

Yang membuat geger bukan hanya jumlah uang yang disita, tapi ekspresi sang pejabat saat keluar dari gedung: tersenyum. Senyum yang tidak tahu malu, seolah sedang menerima penghargaan, bukan digiring ke tahanan. Kamera menyorot wajahnya, dan dalam hitungan menit, media sosial meledak. “Senyum setan,” tulis netizen. “Mungkin dia pikir ini audisi sinetron,”  Warganet tak lagi marah, mereka muak.

 

Di ruang tahanan, ia duduk tenang, masih dengan senyum tipis. “Saya hanya menjalankan sistem,” katanya pada wartawan. Ironisnya, sistem yang ia maksud adalah sistem amplop, sistem bisik-bisik, sistem tutup mata. Di luar, rakyat masih antre beras subsidi. Tapi di dalam, senyum itu tetap abadi seperti noda yang tak bisa dicuci dari wajah kekuasaan.

 

Bagu, Lombok Tengah, 27 Agustus 2025

Catatan Pentigraf "Gagal Pentas" karya Endang Dres



Oleh : Hariyanto



Mari kita perhatikan pentigraf karya Bunda Endang Dres berikut ini : 

GAGAL PENTAS 

Oleh Endang DRES 


Seperti biasanya Padukuhan wilayah kami tiap tanggal 17 Agustus menyelenggarakan upacara dengan pembina upacara Dukuh kami.


Pagi itu Bunga seorang instruktur senam juga budayawan ingin tampil totalitas usai upacara HUT ke 80 RI. Bunga yang cantik mengenakan kostum nenek jadul yaitu berkain kebaya, menggendong "kêcohan" tidak lupa makan sirih lalu membersihkan dengan segenggam tembakau yang masih ditahan di mulutnya. Bunga berjalan keluar hendak naik motor menuju tempat upacara. Namun pandangan berkunang- kunang berkeringat dingin dan lemas tak berdaya. Oleh keluarganya dibawa ke UGD terdekat. Hasil pemeriksaan medis ternyata keracunan tembakau yang dipakai untuk "susuran". 


Dokter memberikan pertolongan dengan gesit akhirnya terselamatkan. Waktu telah menunjukkan pukul 11.00

Upacara telah selesai. Hatinya kecewa dan sedih karena pusingnya belum hilang. Ih...namanya juga salah tembakau ternyata yang dipakai tembakau untuk rokok.

Astaghfirullah…


Pentigraf “Gagal Pentas” ini  sudah memiliki fondasi cerita yang kuat dan menghibur, namun ada beberapa masukan berikut yang bisa membuatnya lebih menarik lagi.

Pentigraf ini sudah benar strukturnya 3 paragraf, tokoh dan alurnya jelas dan begitu lancar penuturannya. Hal mengesankan seperti ini biasanya didapat jika idenya diperoleh dari kisah nyata. Penulis Endang Dres berhasil menyajikannya dalam bentuk pentigraf. 

Catatan Pertama tentang struktur pentigraf. Secara umum, pentigraf terdiri dari tiga paragraf mempunya fungsi yang berbeda:

1. Paragraf pertama: pengantar atau latar cerita

2. Paragraf kedua: konflik atau masalah utama

3. Paragraf ketiga: penyelesaian, twist, atau penutup yang mengejutkan

Struktur ini penting untuk dipegang dan dijadikan pedoman setiap kali menulis sebuah pentigraf. Contoh kasus di atas adalah salah penempatan kalimat dalam struktur pentigraf.

Kalimat "Hasil pemeriksaan medis ternyata keracunan tembakau yang dipakai untuk 'susuran'" mengandung unsur pengungkapan, sehingga secara struktur lebih cocok ditempatkan di paragraf ketiga sebagai bagian dari twist atau penyelesaian. Jika kalimat tersebut dimunculkan terlalu awal (di paragraf kedua), maka ketegangan cerita bisa berkurang karena pembaca sudah mengetahui penyebabnya sebelum klimaks tercapai.

Sebagai alternatif, paragraf kedua bisa fokus pada gejala yang dialami Bunga misalnya pandangan berkunang-kunang, keringat dingin, dan dibawa ke UGD tanpa langsung mengungkap penyebabnya. Lalu, paragraf ketiga bisa menjadi momen “ jawaban “ ketika dokter mengungkap bahwa Bunga keracunan tembakau rokok, bukan tembakau susuran. Ini akan memperkuat efek kejutan dan membuat twist lebih terasa.

Disarankan memindahkan kalimat tersebut ke paragraf ketiga akan membuat alur cerita lebih tajam dan sesuai dengan kaidah penulisan pentigraf. 

Berikut saran revisinya

GAGAL PENTAS

Oleh Endang DRES 


Seperti biasanya, Padukuhan wilayah kami setiap 17 Agustus menyelenggarakan upacara kemerdekaan dengan pembina upacara Dukuh kami. Tahun ini terasa istimewa karena Bunga, seorang instruktur senam sekaligus budayawan, berencana tampil totalitas dalam balutan kostum nenek zaman dulu: berkain kebaya, menggendong kêcohan, dan membawa sirih serta tembakau sebagai pelengkap peran.


Pagi itu, Bunga bersiap menuju lokasi upacara. Namun belum sempat menyalakan motor, tubuhnya mendadak lemas, berkeringat dingin, dan pandangan berkunang-kunang. Keluarganya panik dan segera membawanya ke Unit Gawat Darurat terdekat. Upacara tetap berlangsung, tetapi Bunga terbaring tak berdaya, kecewa karena gagal tampil dalam momen yang telah ia persiapkan dengan sepenuh hati.


Menjelang siang, dokter menyampaikan hasil pemeriksaan: Bunga mengalami keracunan tembakau. Ternyata, tembakau yang ia gunakan bukan untuk susuran, melainkan tembakau rokok yang lebih keras dan berbahaya jika dikunyah. Ia hanya bisa tersenyum pahit sambil bergumam, “Astaghfirullah... salah tembakau.”

Catatan kedua, membuat twist bukan sekedar menjawab persoalan atas konflik di paragraf ke 2, namun tambahkan kejutan berupa dialog monolog dari “ tokohnya.” Di bagian saran revisi ini dialog berupa ucapan Bunga yang bergumam “Astaghfirullah... salah tembakau.” Ini adalah dialog fisik, bisa juga berbentuk dialog batin. Pernyataan kalimat langsung seperti ini sangat penting ditulis sebagai twist karena yang mengandung refleksi dari tokohnya. Refleksi dalam sebuah pentigraf untuk menunjukkan perubahan sifat atau sikap yang lebih baik dari sang tokoh. 

Hal demikian sering dilakukan oleh pentigrafis senior, kalau disini bisa dilihat pentigraf yang ditulis Bunda Telly dan kawan- kawan. Lihat bagian akhir paragraf ke 3 nya, sering berupa dialog. Mengapa itu terjadi ? Karena dialog monolog itu cara paling mudah untuk menjelaskan perubahan yang terjadi terutama untuk menunjukkan sifat dan sikap akhir dari sang tokoh. 

Demikian sekedar 2 catatan dari Pentigraf “Gagal Pentas” karya Endang Dres. Semiga bermanfaat. Terus semangat menulis pentigraf. 


Bagu Loteng, 26 Agustus 2026.



Kamis, 14 Agustus 2025

Pentigraf : Merah dan Putih Bendera Bajak Laut

 


Oleh: Hariyanto

Di kampung Mahardika yang sejuk dan tenang, hidup seorang kakek bernama Sarno, veteran tua yang pernah bertaruh nyawa melawan penjajah Belanda demi kemerdekaan Indonesia. Setiap bulan Agustus, semangat perjuangannya bangkit kembali. Dengan tongkat dan suara lantang, ia berkeliling kampung, mengetuk pintu demi pintu, mengingatkan warga untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Baginya, bendera itu bukan sekadar kain, melainkan lambang pengorbanan dan harga diri bangsa. Namun, zaman telah berubah. Banyak warga, terutama anak muda, mulai menganggapnya cerewet dan kuno.


Suatu pagi menjelang 17 Agustus, Kakek Sarno tertegun melihat sebuah bendera hitam bergambar tengkorak berkibar di halaman rumah cucunya, Raka. Dadanya sesak, pikirannya melayang ke masa perang, ketika melihat bendera musuh berarti ancaman. Dengan langkah gemetar, ia mendatangi rumah itu, bersiap menegur keras. Raka menyambutnya dengan senyum dan berkata, “ Tenang Kek. Ini bukan pemberontakan. Ini bendera bajak laut dari anime One Piece. Merah Putih tetap saya kibarkan di atasnya.” Kakek Sarno terdiam, mencoba memahami dunia yang sedang berubah.


Malam harinya, Raka mengajak sang kakek ke lapangan kampung. Di sana, anak-anak muda membuat mural besar , Merah Putih berdampingan dengan simbol One Piece, bertuliskan “Kemerdekaan adalah kebebasan memilih.” Kakek Sarno menatap mural itu lama, lalu tersenyum. Ia sadar, semangat perjuangan tak mati, ia hanya berganti rupa, mengikuti zaman, tapi tetap berakar pada cinta tanah air.



Rabu, 13 Agustus 2025

Pentigraf : Bambu Runcing dan Doa Ibu



Oleh : Hariyanto


Di tengah kobaran semangat jihad yang menggema dari masjid-masjid Surabaya, Suryono berdiri di halaman pesantren dengan bambu runcing di tangan. Ia bukan santri, tapi datang dari kampung sebelah, terpanggil oleh seruan ulama: “Berjihad melawan penjajah adalah kewajiban!” Bambu runcingnya telah diberi doa oleh Kiai Hasyim, yang memimpin para pemuda dengan takbir dan keberanian. Di belakangnya, Bu Lastri, sang ibu, menatap dengan rasa kuatir.


Sebelum berangkat Bu Lastri memeluk erat Suryono. “Kalau kau gugur, gugurlah sebagai pejuang,” katanya sambil menyelipkan kain doa ke dalam saku anaknya. Di jalanan Surabaya, suara mortir dan senapan mesin Sekutu menggema. Tapi para pejuang tak gentar. Mereka hanya bersenjata bambu runcing, semangat kemerdekaan, dan keyakinan bahwa jihad mereka suci. Suryono berlari bersama ratusan pemuda, menerjang tank dan peluru dengan takbir yang menggema lebih nyaring dari ledakan.


Malam itu, Bu Lastri duduk di beranda rumah yang mulai retak oleh getaran bom. Ia tak tahu apakah anaknya masih hidup. Tapi ia tahu, doa para ibu dan restu para ulama telah menjadikan bambu runcing itu lebih tajam dari baja. Pagi harinya, seorang santri datang membawa kabar: Suryono selamat, meski terluka. Bu Lastri menangis, bukan karena luka anaknya tapi karena tahu anaknya telah menjadi bagian dari sejarah Surabaya yang tak akan pernah dilupakan.


Bagu, Loteng, 13 Agustus 2025


Selasa, 12 Agustus 2025

Pentigraf: Sang Shodanco di Gerbang Merdeka

Oleh : Hariyanto

Di ujung kampung yang tenang, berdiri seorang lelaki tua dengan tubuh bongkok dan langkah tertatih. Topi ala Shodanco tak pernah lepas dari kepalanya, seolah menjadi mahkota dari masa perjuangan yang tak terlupakan. Bekas luka gulatnya dengan tentara Jepang masih membekas di tubuh, tapi semangatnya tetap menyala. Di gerbang rumahnya, dua bendera berkibar berdampingan Merah Putih dan Hinomaru. Bukan tanda pengkhianatan, melainkan simbol sejarah: bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perut penjajahan, dan ia adalah saksi hidupnya.


Setiap pagi, ia menyusuri jalan kampung, menyapa anak-anak muda dengan suara lantang, “Jangan loyo! Bangsa ini berdiri karena darah, bukan sekadar kata!” Warga kampung memanggilnya "Pak Shodanco", bukan karena pangkat, tapi karena semangat. Ia tak pernah lelah menanamkan cinta tanah air, meski tubuhnya renta. Baginya, patriotisme bukan hanya soal perang, tapi tentang menjaga nyala semangat merdeka dalam hati generasi berikutnya.


Kini, di tengah dunia yang kian lupa pada sejarah, Pak Shodanco berdiri sebagai pengingat hidup. Bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian melawan ketakutan. Ia adalah lambang patriotisme yang tak lekang oleh waktu jùmeski jalannya bongkok, jiwanya tetap tegak.


Bagu, Loteng, 12 Agustus 2025