Tampilkan postingan dengan label Pentigraf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pentigraf. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2025

Pentigraf: Sang Shodanco di Gerbang Merdeka

Oleh : Hariyanto

Di ujung kampung yang tenang, berdiri seorang lelaki tua dengan tubuh bongkok dan langkah tertatih. Topi ala Shodanco tak pernah lepas dari kepalanya, seolah menjadi mahkota dari masa perjuangan yang tak terlupakan. Bekas luka gulatnya dengan tentara Jepang masih membekas di tubuh, tapi semangatnya tetap menyala. Di gerbang rumahnya, dua bendera berkibar berdampingan Merah Putih dan Hinomaru. Bukan tanda pengkhianatan, melainkan simbol sejarah: bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perut penjajahan, dan ia adalah saksi hidupnya.


Setiap pagi, ia menyusuri jalan kampung, menyapa anak-anak muda dengan suara lantang, “Jangan loyo! Bangsa ini berdiri karena darah, bukan sekadar kata!” Warga kampung memanggilnya "Pak Shodanco", bukan karena pangkat, tapi karena semangat. Ia tak pernah lelah menanamkan cinta tanah air, meski tubuhnya renta. Baginya, patriotisme bukan hanya soal perang, tapi tentang menjaga nyala semangat merdeka dalam hati generasi berikutnya.


Kini, di tengah dunia yang kian lupa pada sejarah, Pak Shodanco berdiri sebagai pengingat hidup. Bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian melawan ketakutan. Ia adalah lambang patriotisme yang tak lekang oleh waktu jùmeski jalannya bongkok, jiwanya tetap tegak.


Bagu, Loteng, 12 Agustus 2025


Senin, 09 Juni 2025

Pentigraf : Wajah-Wajah Kusut




Oleh : Hariyanto

 

HP di tangan Barjo bergetar, mengusik pikirannya yang sudah kalut. "Barjo, bagaimana bisa kamu seceroboh ini? Viral! Gerakan menentang penambangan makin menggila!" Suara di seberang terdengar penuh amarah, disertai dentuman meja yang menggema seperti longsoran bukit. Barjo terdiam, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Kesalahannya kini membesar, menjadi badai yang tak bisa dihentikan.

 

Sekali lagi, ia harus turun gunung melobi pejabat di Ibukota dan para penguasa di lapangan. Gelombang protes bergaung dari penjuru negeri, menyuarakan kehancuran pulau kecil yang dulu indah dan megah. "Stop penambangan nikel!" spanduk bertebaran, meneriakkan harapan yang dulu juga pernah ia miliki.

 

Di tengah kerumunan, Barjo menangkap bayangan dirinya di kaca mobil yang melintas. Wajahnya semakin kusut, garis-garis lelah makin menegas, seakan mencerminkan tanah yang tergerus oleh keserakahan. Kemiskinan masih membayangi, sementara tekanan dari bos besarnya menghimpit tanpa ampun. Ia bukan lagi pejuang kemajuan, melainkan pion yang terjebak dalam permainan yang menghancurkan ; baik bagi pulau itu maupun dirinya sendiri.

 

Bagu Loteng, 9 Juni 2025

 






Sumber : Kompas TV, 7 Juni 2025

Materi : Menulis Pentigraf Zoom RVL dan GBL 26 Mei 2025


Materi PPT Pentigraf 26 Mei 2025…bismillah

 

MENULIS PENTIGRAF DAN MENYAJIKANNYA

Cerpen Tiga Paragraf yang Padat dan Bermakna

Pelatihan Menulis Pentigraf Grup RVL dan GBL Senin , 26 Mei 2025

 

Oleh : Drs. H. Hariyanto

 

1.      Apa Itu Pentigraf ?

Pentigraf  adalah karya sastra fiksi “Cerpen Tiga Paragraf” yang  digagas oleh Dr. Tengsoe Tjahjono dari Unesa Surabaya.

Ciri-Ciri Pentigraf:

* Mengangkat satu tema, satu tokoh sentral, dan satu alur cerita

* Terdiri tepat dari tiga paragraf, tanpa penambahan atau pengurangan

* Panjang tulisan sekitar 210 kata

* Setiap paragraf mengandung satu gagasan utama dan satu kalimat langsung (dialog)

* Memiliki ciri khas berupa plot twist di akhir cerita

* Elemen terdiri alur, tokoh, latar dan tema  bersatu padu

 

2.      Struktur Pentigraf :

Paragarf ke 1 : Abstraksi  atau  Pengenalan awal  

Abstraksi adalah pengenalan cerita atau pengenalan peristiwa. Abstraksi pada pentigraf hanya terdiri dari beberapa kalimat di awal paragraf dan disampaikan secara padat, jelas dan tidak berbunga-bunga.Bisa juga diisi pengenalan konflik .

Paragraf ke 2 Komplikasi  atau konflik

Komplikasi adalah munculnya konflik atau peristiwa. Komplikasi diletakkan di bagian tengah paragraf pertama dan akhir paragraf kedua. Dibandingkan abstraksi, komplikasi memiliki porsi lebih panjang. Alasannya karena di bagian ini harus memuat peristiwa dan klimaks.

Paragraf ke 3 Resolusi  atau twist 

 Struktur pentigraf yang terakhir adalah resolusi atau penyelesaian masalah. Resolusi diletakkan di paragraf terakhir. Dalam penulisan pentigraf, amanat cerita disampaikan secara tersirat, atau tidak langsung. Disini bisa dikatakan tempatnya refleksi diri. Tujuannya agar penulis bisa mengambil Pelajaran atau nilai di dalamnya. . Tambahkan kalimat jeda dramatis.

 

3.    Kedudukan Pentigraf dalam Karya Sastra

Dalam dunia sastra Prosa fiksi ada tiga

1. Novel

2. Novelet

3. Short story

        A. Short sort story

        B. Long short story

Pentigraf ini bagian dari short short story atau fiksi mini. Pentigraf bagian dari fiksi mini.

4.      Proses  Menulis Pentigraf

Dalam proses menulis Pentigraf menurut Tengsoe Tjahjono (2020) dalam buku Berumah dalam Sastra 3 dapat disejajarkan dengan seorang tukang kayu. Untuk membuat produknya seorang tukang kayu memerlukan bahan , lalu alat untuk mengolah bahan lalu produk berupa kursi meja, alat dapur dsb,

Dalam proses menulis bahan iru berupa

1. Pengalalaman realitas

2. Peristiwa

3. Pengalaman hidup

4. Fenomena

Semua itu disebut  REALITAS FAKTUAL

Dari bahan kemudian berdasarkan pengalaman, kecerdasannya dan kemampuannya kemudian megolahnya menjadi tulisan. Hal itu memerlukan alat yag dimiliki setiap manusia yang disebut KEMAMPUAN dan KETRAMPILAN BAHASA.

Setelah diolah REALITAS FAKTUAL itu menjadi REALITAS BARU, yaitu REALITAS IMAJINASI. Begitulah proses  perjalanan menulis Pentigraf.

 

5.      Proses Mengolah PENTIGRAF

Setelah bertemu objek berupa realitias factual pada umumnya aka nada kegelisahan dalam diri penulis,

Pikirannya bekerja , pertanyaan bermunculan. Jika penulis tidak gelisah atas objek yang diamati, tidak akan lahir tulisan yang baik

 

6.      PRODUK atau hasil tulisan PENTIGRAF

Sebagai REALITAS BARU , karya sastra tidak dapat persis dengan kenyataan. Semua itu terjadi karena sudah diolah penulis dengan pengalaman  dengan berbagai peristiwa yang memiliki nilai lebih kompletatif dan reflekstif, bahkan lebih luas dan kaya.

7.      Tugas Penulis PENTIGRAF

BUKAN SEKEDAR MEMINDAHKAN realitas factual ke dalam teks sastra, tetapi MENGOLAH DAN MENGANGKAT realitas faktual tersebut menjadi realitas baru, yaitu realitas imajinatif. .

REALITAS BARU itu lebih bernilai, lebih kaya , dan lebih dalam maknanya.

 

8.      CONTOH KASUS Pentigraf menggambarkan Fakta Faktual

Jika seorang penulis menemukan pemandangan seorng nenek yang tinggal di gubug reyot di pinggir kali , maka biasanya akan menuliskan fakta terebut sebagai fakta factual. Ini contohnya

NENEK SEBATANG KARA 

Penulis : xyz

    Di pinggir sungai yang airnya mengalir deras berdirilah sebuah gubug reot yang sangat memprihatinkan. Atapnya terbuat dari seng, terlihat bocor di sana-sini. Andaikan sungai itu meluap gubug itu pasti ikut hanyut diseret air. 

         Siapa penghuni gubug itu? Dia adalah seorang nenek tua yang tinggal sebatang kara. Orang-orang tak mengenali nenek itu. Mereka juga tidak tahu siapa keluarganya. Mungkin saja dia tidak mempunyai suami, apalagi anak. 

       Tiap hari nenek tua itu bekerjaa memungut barang-barang bekas di bukit saampah yang terletak tidak jauh dari gubugnya. Sungguh menyedihkan kehidupan nenek malang itu.

 

Tulisan ini juga disebut Pentigraf karena terdiri dari 3 paragraf, namun masih menuliskan FAKTA REALITAS, belum menjadikannya REALITAS BARU yang sudah diolah dengan Imajinas.. Jika diolah menjadi realitas baru maka  akan menjadi berubah judulnya : HUJAN TIGA HARI

 

9.      Contoh Pentigraf dengan REALITAS BARU

 

HUJAN TIGA HARI 

Penulis  : xyz

        “Aku masih kuat bekerja,” kata nenek tua itu ketika Yeny, petugas Dinas sosial, yang berusaha membujuknya untuk pindah ke tempat penampungan yang lebih layak. Kedua perempuan iu sama-sama memandang gubug di bantaran sungai tersebut, tentu dengan pikiran yang saling berbeda. Hujan turun sudah tiga hari ini. Air sungai pun sudah mencapai bibir. Gubug beratag seng yang bolong di sana-sini tak mampu bertahan dari gempuran air. Matras bekas, yang tak lagi berbentuk, basah. Bahkan, lantai tanah itu becek oleh genangan.

         “Hujan makin deras, Ibu. Ibu ikut kami saja,” bujuk Yeny sambil mengusap wajahnya yang basah oleh lelehan hujan. Nenek tua itu bersikukuh. Dia malah meringkuk di matras yang basah. Dalam batinnya terbentang kalimat: “Ini rumahku. Tak akan aku tinggalkan, apapun yang terjadi.” Yeny melirik petugas Dinas Sosial lainnya. Ada empat leki-laki bersamanya. Keempat laki-laki itu merangsek ke dalam, berusaha mebopong sang nenek. Nenek itu meronta. Setua itu tubuhnya terlihat perkasa. Tak mudah membetotnya dari matras lapuk yang sudah tak berbentuk itu. 

         Hujan turun sangat lebat. Suara gemuruh terdengar dari hulu. Dalam hitungan detik air sungai itu meluap, coklat dan keras menerjang. Yeny terkejut. Empat laki-laki itu berusaha memegang dan menyeret nenek tua itu sekuat tenaga, melawan terjangan air. Nenek itu lengket dengan matrasnya. Tak mudah. Pegangan itu pun terlepas. Hanya dalam satu tarikan napas gubug itu tersapu banjir. Berantakan jadi serpihan papan dan seng. Sebuah matras tua tampak timbul tenggelam. Entah, nenektua itu di mana. Yeny dan empat kawannya melongo di atas mobil Dinas Sosial. Dia menangis, “Aku telah gagal hari ini.” Hujan tidak makin reda. 

 

10.   REFLEKSI

Bandingkan sekarang antara realitas objektif dengan teks pentigraf “Nenek Sebatang Kara”. Tidak berbeda, bukan? Penulisnya  hanya memindahkan realitas faktual tentang kehidupan nenek tua ke dalam pentigraf.Penulis xyz belum MENGOLAHNYA menjadi sebuah realitas baru, realitas imajinatif. Penulis baru sebatas MELAPORKAN peristiwa atau keadaan,

Sekarang bandingkan !  Pentigraf “Hujan Tiga Hari” telah berubah menjadi sebuah realitas baru, sebuah realitas imajinatif. Pentigraf ini bukan sekadar transfer peristiwa. Penulis telah sungguh-sungguh MEMBANGUN, MEMBENTUK, MENCIPTA, MENGANGKAT pengalaman sehari-hari atau realitas objektif menjadi sebuah dunia baru yang memiliki NILAI LEBIH dibandingkan dengan pengalaman yang telah diamatinya.

Begitu seharusnya menyajikan Pentigraf yang cantik.

 

Berikut contoh ke 3 Pentigraf yang hanya memodifikasi “Fakta “ di beberapa bagian

Jansen Pengukir Angka dari Pegunungan Papua

Oleh : Hariyanto

 

 

Di pedalaman Papua, Jansen tumbuh di antara hutan lebat dan lereng gunung. Matanya selalu berbinar ketika melihat angka, dan tangan kecilnya begitu cekatan menghitung tanpa kalkulator. Pak Nursalam, guru yang datang dari Jawa, melihat bakat itu sejak awal. Ia tak hanya mengajarkan matematika, tetapi juga memberi harapan. Jansen bukan sekadar pintar ia memahami logika lebih cepat dibanding anak-anak lain. Setiap lomba cerdas cermat di kecamatan, namanya selalu  berada di puncak daftar juara.

 

Saat mendaftar ke SMP di kota, panitia penerimaan terkaget melihat hasil tes awalnya skor nyaris sempurna. Merasa perlu memastikan, mereka mengulang tes dengan ujian langsung. Jansen tetap unggul. Berita ini menyebar cepat, hingga pejabat kota dan provinsi turun tangan. Bantuan pendidikan mulai berdatangan ke desa kecilnya sekolah-sekolah diperbaiki, guru tambahan dikirim, dan anak-anak pedalaman mendapat akses lebih baik. Jansen, anak pegunungan, telah mengubah pandangan pemerintah.

 

Puluhan tahun berlalu, sebuah nama tertera di undangan seminar internasional: Prof. Jansen Nursalam, ahli matematika dunia dari Papua. Ia berdiri di mimbar, memulai pidatonya dengan senyum tenang. "Saya dulu hanya seorang anak yang menulis angka di tanah dengan ranting. Tapi satu guru percaya, dan hidup saya berubah."

 

 

Penjelasan :

 

Pentigraf  berjudul “Jansen Pengukir Angka dari Pegunungan Papua’”sejatinya kisah nyata, terutama gambaran pada paragraph 1 dan 2, yaitu fakta adanya siswa yang pintar dalam mata Pelajaran Matematika, hingga bisa selalu menang dalam perlombaan antar sekolah, Begita masuk SMP di kota saat itu ada seleksi test, dan sterusnya, Khusus pada paragraph ke 3 penulis baru menambahkan “faktor imajinasi” sehingga menjadi fakta baru yaitu fakta imajinasi. Amanah atau pesan yang ingin disampaikan adalah penghormatan seorang siswa terhadap gurunya yang luar biasa, hingga menyematkan nama gurunya di belakang nama dirinya, dan tetap mengenang gurunya ketika suda menjadi orang ternama.

 

TIPS PRAKTIS
1  Dalam membuat twist /kejutan pada paragraf ke 3  antara lain :

a.       Ciptakan Pratagonis yang salah.

b.       Arahkan pembaca kea rah yang salah

c.       Ciptakan efek dramatis pada paragraph terakhir

d.       Ciptakan narrator yang tak dapat dipercaya

e.       Ciptakan kejadian yang tidak terduga

f.        Ciptakan alur yang tidak selalu linier

g.       Ciptakan tokoh dengan watak yang tak bisa diduga

2. Sisipkan di setiap paragraph “kalimat Jeda Dramatis.” (termasuk  jawaban point c. di atas)

  Apa Kalimat Jeda Dramatis itu  ?  Kalimat  dramatis adalah kalimat yang memberikan ruang bagi pembaca untuk merasakan ketegangan, kejutan, atau refleksi dalam cerita. Biasanya muncul di akhir paragraf atau sebelum peristiwa besar terjadi.

 Fungsi Jeda Dramatis dalam Pentigraf

Meningkatkan suspense/ketegangan sebelum twist.

Memperkuat emosi tokoh dan memberikan kesan mendalam.

Mengarahkan pembaca ke kejutan yang akan datang.

Menekankan perubahan besar dalam cerita yang membuat twist lebih kuat.

 

 Contoh Jeda Dramatis dalam Pentigraf

1️ Jeda sebelum twist terungkap:

"Suara langkah mendekat. Bayangan hitam muncul di ambang pintu. Nafasnya tertahan—ia tahu, ini bukan orang biasa."

 Efek: Membuat pembaca tegang sebelum twist besar terjadi.

 

2.  Jeda emosional sebelum keputusan besar:

"Di tangannya, amplop putih itu bergetar. Ia bisa membukanya sekarang, atau membiarkannya tetap tertutup. Tapi, apa pun isinya hidupnya sudah berubah."

 Efek: Meningkatkan ketegangan sebelum pembaca mengetahui hasilnya.

 

 

TERIMAKASIH

 

SELAMAT BERLATIH, Semoga Bermanfaat. Aamiin

 

Bagu, Lombok Tengah, 26 Mei 2025

 

Biodata :

Drs. Hariyanto. Saat ini sebagai purna Guru sejak Februari 2024 lalu. Menyukai tulisan artikel Pendidikan , Puisi dan Pentigraf. Pengalaman menulis  buku antara lain :   Antologi “ PPDB  Zonasi; Dilema Pendidikan Indonesia” (2020) buku Antologi Pentigraf   bersama Tengsoe Tjahjono dkk antara lain  :   “Hanya Nol Koma Satu,” (2020) ; “Nama-Nama yang Dipahat Di Batu Karang,”    dan   “Sekian Jalan Menuju Pasar  (2021)

Di tahun 2021 menulis buku tunggal “ Menggerakkan Literasi   Sekolah   Mengangkat Martabat    Siswa.”     dan” Kiat Sukses Menulis Buku, Belajar dari Para Guru.” Buku “Kisah 40 Hari Menulis Pentigraf" adalah buku solo ke 3 &  4, “Seri Guru Menulis; 100 PENTIGRAF  KLASTER BICARA.” (2022)   buku ke 5 : “ Merakit Asa Puisi 2.0,”  ke-6 dan " Naik Tangga" adalah kumpulan Puisi 2.0 tahun 2023 serta "Belajar Menulis Puisi 2.0 dari Sang Guru."

HP. 089518958898    website  : hariyanto17.blogspot.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 30 Juni 2024

Seni Menulis Pentigraf, Mengubah Fakta Menjadi Cerita “UNIK”




 Oleh: Hariyanto

Proyek menulis pentigraf di KPI ( Kampung Pentigraf Indonesia) menjadikan saya senang menulis cerpen 3 paragraf. Namun untuk mencatatkan diri sebagai yang terpilih dalam buku antologinya tidak mudah. Setidaknya pada tahun 2022 di proyek akhir tahun dengan tema pentigraf ruang saya belum berhasil lolos. Pada pengumuman 10 Januari 2023, karya saya tertanggal 27 September 2022 belum lolos. Itu artinya saya harus belajar lebih cermat lagi. Ada beberapa hal yang bisa menjadikan karya pentigraf tidak lolos kurasi. Tengsoe Tjahjono sang penemu pentigraf menyebutkan antara lain :

 

1. Pada umumnya karya pentigraf sudah bagus karena:

a. Sudah memenuhi format pentigraf.

       b. Materi 'ruang' sudah dihadirkan secara memadai sebagai latar konflik, sebagai pemicu lahirnya persoalan, dan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari alur.

 

2. Terdapat pula pentigraf yang tidak berhasil sebagai karya sastra karena: a. Hanya bercerita (ada alur, tokoh, latar, dan tema) tetapi tidak mampu melukiskan/ menggambarkan/ mengekspresikan secara artistik/ estetik, b. Tidak ada konflik yang terungkap jelas, c. Tidak ada ketakterdugaan pada ending, dan d. Alur digarap secara datar, dan e. Persoalan yang diangkat masih sangat sederhana.

 

Semoga catatan ini bermanfaat untuk pembelajaran.

 

Terima ksh.

Salam 3 Jari



PENTIGRAF BUKAN SEKADAR CERITA


Pentigraf adalah karya sastra. Oleh karena itu bahan pentigraf bukan hanya cerita. Seorang pentigrafis tidak cukup bermodalkan alur, tokoh, latar, tema, dan sudut pandang saat menulis pentigraf. Jika hanya bermodalkan unsur-unsur itu dapat dipastikan pentigrafnya akan monoton dan membosankan.

Apa yang mesti dimiliki oleh seorang pentigrafis? Selain unsur-unsur narasi itu, seorang pentigrafis harus lihai mengemas, mengonstruksi, atau mengaransemen bahan-bahan itu.
Saya ambil contoh pentigraf Ken Agnibaya berikut ini.

KATAK YANG MEMECAHKAN TEMPURUNG


Ibarat katak dalam tempurung, begitulah aku selama ini. Kupuja suamiku seolah surgaku di telapak kakinya. Kulayani sepenuh hati saat pulang kerja, kusiapkan hidangan pagi pun kecupan mesra sebelum memulai harinya. Cukup sudah semesta bagiku menjadi ibu rumah tangga. Tak ingin aku bekerja demi menuruti pinta belahan jiwa.

Sayang disayang, hari ini semua berbeda. Di tengah malam buta aku ditelpon. Suamiku mengalami kecelakaan. Lukanya tak parah, lecet-lecet saja. Namun deritaku yang tak terkira karena ada perempuan lain bersamanya. Terungkap sudah. Aku sang katak memecah tempurungku, memelototi dunia.

Tanpa banyak berucap, kutinggalkan suamiku yang diam gagu. Tak ada pembelaan darinya karena semua terlalu nyata. Aku pulang ke rumah, kukemas barang sekenanya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kebahagiaanku masih bisa diselamatkan. "Mas, akhirnya kutemukan alasan cerai," suara telponku memecah derai tawa lelaki di seberang sana. Bujang abadi itu masih menungguku, setelah terpisahkan perjodohan bertahun-tahun lalu.

Kampung, November 2021.


Sebenarnya bahan pentigraf itu sederhana: seorang lelaki kecelakaan saat dengan perempuan lain yang tentu saja bukan istrinya. Berita seperti sering kita baca di medsos atau kita tonton di televisi.

Jika pentigraf disusun seperti cerita yang terbaca di medsos tentu tidak akan menarik sebagai sebuah karya sastra. Ken Agnibaya telah mengaransemennya sedemikian rupa. Paragraf pertama tentang istri yang berbakti kepada suami. Terkesan sebagai istri yang sangat baik. Paragraf kedua sang suami kecelakaan saat sedang dengan perempuan lain. Nah, yang menarik terletak di paragraf ketiga. Kecelakaan itu memuluskan jalan istri untuk bercerai, apalagi mantan pacar yang masih membujang setia menunggu. Akhir yang tak terduga.

Nah, beberapa pentigraf yang dikirim ke Proyek Pentigraf Ruang banyak yang hanya memiliki cerita namun lemah dalam mengemasnya. Karena itu betapa pentingnya kita untuk terus membaca karya pentigraf dari para pentigrafis lain. Dengan cara itu kita diam-diam belajar.

Selamat menunggu pengumuman Pentigraf Ruang malam ini.

Salam 3 Jari
Tengsoe Tjahjono

 

Nah belajar dari catatan itu saya mencoba merevisi karya saya yang tidak lolos, karena ada harapan dari Tengsoe Tjahjono bahwa karyanya boleh dikirim kembali setelah direvisi dan dikurasi ulang. Kesempatan emas inilah saya gunakan saat itu (Januari 2023) untuk merevisi ulang. Hasilnya adalah saya menghubungi seorang pentigrafis senior, berkonsultasi dan diskusi tentang beberapa kelemahan yang ada dan cara merubahnya. Jrenggg... jadilah karya saya dengan berbagai sentuhan. Saya berharap ketiga karya ini lolos semua mendampingi 100 pentigrafis yang sudah lolos sebelumnya. Semoga , aamiin.

 

Dan dalam tulisan kali ini dengan penuh rasa syukur saya memberitahukan bahwa semua karya saya revisi bisa lolos ketiga-tiganya, Ini hal yang luar biasa dan Sejarah dalam hidup saya karena biasanya dari 3 karya yang dikirim saya baru bisa lolos 1 atau 2 saja selama ini.

 

Kisah inilah yang ingin saya tuliskan ulang di sini agar bisa untuk pembelajaran, bahwa dalam kesempitan selalu ada peluang jika kita berusaha.  Semoga tulisan ini bisa menggugah calon pentigrafis di Grup Penulis RVL maupun di mana saja berada. Aamiin.

 

 

 

Berikut karya revisi saya  yang telah lolos ketiganya.

 

1.     Dari Sebuah Laci dan Parfum Istriku

 Oleh ; Hariyanto

 

Udara AC terasa lebih dingin dari biasanya. Badanku menggigil. Ini pertama kalinya aku memasuki ruangan serba kaca. Baru aku ketahui belakangan bahwa kaca itu tembus pandang dari sebuah sisinya. “ Bapak santai dulu di sini, jika ingin minum teh atau kopi panas ada di meja sudut. Kami akan tinggalkan Bapak untuk sementara waktu ....,” ucapan ramah itu sedikit menghangatkan suasana.

            “Ya Allah, kuatkanlah hatiku, sabarku, dan bebaskan dari segala kesulitan .” Seluruh ucapan dan doa sudah aku habiskan di ruangan penyidik KPK barusan. Ucapan-ucapan untuk menjelaskan kebenaran sambil melawan dinginnya udara ruangan.

            Kupakai baju orange dengan segunung malu dan sesal. Membiasakan diri dengan ruangan sempit dan kumuh. Panas tanpa AC seperti rumah dan kantorku dulu. Rekaman percakapan korupsi dana mega proyek di daerah tak lagi dapat kulawan. Kuakhiri catatan harianku malam ini tentang peristiwa sepuluh tahun lalu itu. Aku memandang langit-langit kamar sel, merindukan bau wangi parfum mahal istriku yang selalu dimintanya, yang membuatku melakukan semuanya.  Dia, tak pernah menjengukku sedari awal dulu, 10 tahun lamanya.

Blitar, 11 Januari 2023

 

2.     Sebuah Episode di Ruang Kelas 

Oleh : Hariyanto

    Sejarah pemberontakan Sudanco Supriyadi terhadap Jepang menggema di kelasku . Anak-anak memperhatikan dengan serius seolah ikut di dalamnya. “Peristiwa itu terjadi di sini anak-anak!” ucapku tegas dengan telunjuk tangan mengarah ke lantai kelas.

    Suasana kelas hening sejenak saat kuambil kapur di meja. Tiba-tiba kesenyapan itu terpecah., “ Tidaaaak, lariii....” teriak Jupri sambil tangannya menunjukkan ke atas. Ia pingsan.

      Di ruang UKS Jupri menceritakan melihat pasukan Jepang sedang mengejar pemberontak. Bunyi senapan dan mesiu Jepang membuatnya histeris. Kejadian hari ini adalah kesekian kalinya, di dalam kelas berbentuk bangsal rumah sakit, berplafon baja, berjendela kayu jati, dan berjeruji besi. Di atas pintu tertulis 'Dibangun pada tahun 1911’ dalam bahasa Belanda.

Blitar, 11 Januari 2023

--===o0o===--

 

3. Sesudut Senyum

Oleh : Hariyanto

 

        “Sumi, keputusanku sudah bulat!” kalimat-kalimatnya membuatku limbung dan hampir tak sadarkan diri. Talak adalah sebuah kata menyakitkan yang membuatku kehilangan harga diri. Aku ditalak tanpa kesalahan, hanya karena menikahi seorang gadis yang baru dikenalnya.

 

        Puluhan tahun setelah peristiwa itu, kuinjakkan lagi kaki ke lantai keramik yang kupilih dulu. Beberapa orang pelayat memandangiku dan bersalaman. Sebagian lainnya berbisik-bisik.  Aku berusaha sedikit tersenyum sekedar menunjukkan muka ramah. Ya, mereka tahu akulah ratu di rumah ini dulu.

 

        "Maafkan dia ya, Sum," ucap mantan kakak iparku sambil berurai air mata. Dia menyilahkanku duduk di samping jenazah yang tertutup kain putih. Aku diam. Masih tak kusangka ia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri setelah ditinggalkan istri mudanya. Kisahnya tak seantik bisnis barang antik yang kami bangun bersama sebelum akhirnya ia membuangku. Kupandang jenazah itu dengan sedikit tersenyum. Senyum yang hanya Tuhan dan aku yang tahu maknanya.

 

Blitar, 11 Januari 2023

 

*) Artikel ini ditulis ulang pada 30 Juni 2023

 *)  Tiga karya pentigraf saya di atas adalah based on true story, tetapi sudah saya rubah menjadi narasi berkisah baru.