Rabu, 01 Maret 2023

Mengenal Puisi 2.0 dan Tingkatannya 123 (bagian ke-1)




 oleh : Hariyanto

                Puisi adalah cara dalam mengungkapkan pikiran, perasaan seseorang tenatng satu hal. Ungkapan itu biasanya dalam bentuk tulisan dengan gaya bahasa tertentu dan pilihan kata untuk menciptakan keindahan dan kedalaman maknanya.

Puisi 2.0 memiliki ciri khusus yaitu jumlah kata di dalamnya tidak lebih dari 20 kata, belum termasuk judul. Jika ditulis kurang dari 20 kata tidak menjadikan masalah.  Kesederhanaan bentuk puisi 2.0 ini dimaksudkan bahwa puisi ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran, baik untuk mengungkapkan sesuatu maupun untuk menulis puisi lebih panjang bentuknya. Hal ini bisa diberlakukan untuk pelajar maupun non pelajar. Karena sesungguhnya, sesederhana apa pun bentuk puisi, seperti puisi 2.0 ini menjadi tidak mudah menuliskannya  pada awalnya.  Disinilah puisi 2.0 tampil sebagai media pembelajaran, menjembatani kesulitan menulis menjadi kemudahan menulis puisi.

                Puisi 2.0 adalah sama seperti jenis puisi lainnya, yang mungkin hanya berbeda dalam jumlah puisinya. Namun, ada beberapa hal yang menjadikan puisi 2.0 ini yang agak membedakan adalah dalam tehnik penulisannya. Seperti biasa tehnik penulisan ini biasanya diatur oleh penggagasnya, dalam hal oleh Dr. Endang Kasupardi, seorang pendidik dari Garut yang menggariskan antara lain : 1) Jumlah kata dibatasi hanya 20 kata, 2) Memiliki satu fokus objek yang disusun  menjadi puisi, 3) Menggunakan satu  atau dua gaya bahasa yang  jelas,  4) Penulis harus benar-benar mendudukkan dirinya dalam puisi, apakah sebagai    orang   pertama, kedua, atau ke tiga. 5) Mengutamakan 60% pikiran dan mengungkapkan 40% perasaan melalui objek nyata yang dimanipulasikan. 6) Adanya data dan fakta sehingga dapat  ditelusuri keberadaanya. 7) Isi puisi semua menggunakan hurup kecil,  karena kata yang dipakai hanya sebagai  kutipan     dari kenyataan, kecuali judul semua menggunakan huruf capital.  8) Topik. Tema, puisi 2.0 diambil dari diri   penulis dan atau lingkungan penulisnya.

                Ciri lainnya yang menonjol adalah ; dalam puisi ini harus mempunyai fokus 1 obyek dalam satu puisi. Satu sudut pandang. Sehingga diperlukan latihan untuk menulis secara utuh dan konsisten seperti judulnya.

                Seperti dikemukakan oleh Dr. Endang Kasupardi puisi 2.0 mempunyai tingkatan tertentu, yang menggambarkan fase tertentu, serta tingkatan konsentrasi penulisnya dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Ada 9 fase yang diperkenalkan beliau dengan tujuan agar seseorang penulis puisi 2.0 tidak terjebak pada fase tertentu saja, agar pembelajarannya bisa berpindah-pindah sesuai dengan variasi yang ada.  Fase tersebut adalah :

1)      Fase Individualis ; bagi penulis adalah cara ia mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran/perasaan sendiri. Sifatnya subyektif.  Dia menulis yang dia rasakan/pikirkan tanpa memikirkan orang lain menikmati atau tidak.

Contoh :

JANGAN MEMBENCI HUJAN

janganlah membenci hujan

saat

debu hilang

dari muka

daun

 

janganlah membenci huja

saat berja;lan

tanpa

payung

 

2. Fase Natural

Disebut juga fase obyektif.  Penulis hanya mengatakan apa yang dilihat baik melalui pikiran, perasaan  yang terkait dirinya terhadap suatu peristiwa. Tulisannya banyak berbentuk kalimat keterangan.

 

Contoh;
PINTU

 

ukiran sisi melekat pada jati

ada kaca kecil

di sudut atas

tengah

 

dan

pegangannya

lupa

menyimpan

kunci

 

 

3. Fase TEAR/Ratapan

Puisi yang mengandung kesedihan mendalam, kadang disertai dengan tangisan sambil terbata-bata mengisahkan pengalaman nyata (fisik) dan abstrak (batin).

Contoh :

DUA MALAM

 

malam semakin

dingin

sejak embun

mulai nampak

di ujung daun

capung belum beranjak

dari pusara

dan tanah

merah

 

 

(Bersambung)

 

Blitar, 1 Maret 2023

Hariyanto


1 komentar: