Rabu, 11 Januari 2023

RESENSI BUKU : Menggali Emas dari Bukit Ertsberg ke Bukit Gasberg

 



Judul buku                  : Grasberg

                                     # Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya                                                                        pada Endapan yang Paling Terpencil di Dunia

Penulis                          : George A Mealey

Penerjemah Indonesia  : Rachman Wiriosudarmo

Penerbit                        : Freeport-McMoran Copper&Gold Inc. New Erleans,  LA

ISBN  nomor              :  0-9652890-1-x

Dicetak                         : PT. Jayakarta Agung Offset, Jakarta

Tebal buku                   : 384 halaman

Tahun                          : 1999               

 

Buku ini terbitan 1999, dan sangat lama yaitu 24 tahun  jika dilihat dari tahun ini 2023. Tetapi buku ini sangat istimewa. Buku Ekslusif yang pernah saya miliki dan saya baca. Bukan hanya bentuk fisiknya dengan hard cover mewah, desain rapi ,  font yang berkelas, mirip buku zaman Hindia Belanda dan kertas yang tebal berkualitas lebih 80 gram warna kekuningan. Bukan karena usang kertasnya tetapi model kertas yang membuat mata sejuk jika membacanya.

Buku ini tergolong langka. Buku  hadiah pemenang Lomba Menulis Guru di tahun 2000 se Kabupaten Mimika. Seluruh peserta lomba diberikan hadiah buku tersebut dan merupakan cetakan baru di Indonesia kala itu ( 2000 ) dari edisinya di tahun 1999. Tidak sembarang orang dapat memilikinya. Buku ini diberikan kepada para tamu terbatas di Perusahaan Freeport. Kami saat berserta sekitar 21 guru diberikan kesempatan wisata Tambang dari Kota Timika menuju Kota Kuala Kencana dan naik ke Tembagapura, lalu sempat diajak keliling di tempat penggalian dengan truck raksasa, dan di tempat pengolahan batuan. Perjalanan kami ke area tambang di Puncak Jaya Pegunungan Sudirman itu sangat nyaman karena menggunakan Bus khusus dengan tenaga besar. Melewati punggung-punggung gunung yang jelannya berkelok-kelok dihiasai jurang di kanan –kiri jalan yang kadang menyempit dan melebar.

Perjalanan menuju Grasberg dan Ertsberg seperti saat ini tidak sama dengan perjalanan Dozy pada tahun 1936 lalu; sang penemu “cebakan” biji Ertsberg, sebuah kata dalam bahasa Belanda artinya “Gunung Bijih”.  Oleh Dozy seorang geolog yang berhasil melakukan ekspidisi ke Puncak itu dibuatlah sketsa dengan pensil , beliau juga menyimpulkan bercah warna biru dan hijau pada dindingnya adalah biji tembaga. Keberadaannya di puncak gunung yang tinggi ( sekitar 4900 dpl) dan juga diliputi salju maka Dozy pun berkata ,” Saya menyadari tidak banyak yang dapat dilakukan orang karena tidak ada jalan, tidak ada pelabuhan, dan juga tidak ada pabrik. Eertsberg bagaikan gunung emas di bulan.”

Penemuan cebakan tembaga dan emas ini berada di tempat yang sangat tinggi, dengan medan yang sulit dicapai, sehingga untuk mencapai puncaknya saat itu harus melewati tebing dengan disandari pohon yang ditalikan ke tebingnya. Bersama beberapa pembantunya orang Dayak yang akhirnya membuat tangga kasar dari beresiko tinggi. Curah hujan hampir sepanjang tahun membuat kesulitan berlipat untuk menaiki tebingnya. Kisah-Kisah penemuan Etsberg dan pendakian puncak jaya ini ternyata menjadi bagian yang sangat menarik dari buku ini. Sangat menegangkan dan menantang, persis dalam adegan film-film petualangan arkheolog Indiana Jones. Karena ternyata rintisan jalan dan sejarah penemuannya membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.

Buku ini cukup tebal untuk dibaca, namun jika sudah membaca pada bab I seperti tersihir untuk terus membacanya sampai tuntas. Hal yang menegangkan ada pada bagian I Penemuan Etsberg yang berdekatan dengan Grasberg yang menjadi judul buku ini. Mengapa Ertsberg disebut lebih dahulu ? Karena Ertsberglah ditemukan pertama kalinya dan ditambang sebelum akhirnya menambang juga Gazberg.

Agar tidak membingungkan apa saja cakupan isi buku ini berikut daftar isinya yang disusun seperti pasal-pasal hukum.  

Bagian 1 Penemuan dan Resiko

1. Freeport dan Irian Jaya

2.. Penemuan Ertsberg

3. Membangun tambang

Bagian 2  Krisis dan Ekspansi

4  Era bawah tanah

5. Era Grasberg

6. Menuju 115.000 ton per hari

Bagian 3 Bisnis Pertambangan

7. Menambang bijih tembaga

8. Eksplorasi

9. Penggunaan dan penjualan tembaga

Bagian 4 Sumber Daya dan Masa Depan

10. Pengelolaan lingkungan

11. Hubungan Masyarakat

12. Timika dan Kota Baru

13. Masa Depan

Secara umum bahasan buku ini jika ditilik dari daftar isinya, seperti laporan jurnal sebuah perusahaan. Mungkin hal ini bisa dibenarkan untuk sebuah perusahaan Multi Nasional seperti Freeport McMoran yang kini menjadi nama FI  (Freeport Indonesia). Tetapi jika dibaca pada bab 1 dan 2 makan buku ini bisa menjadi buku referensi sejarah. Sejarah sebuah pendakian untuk penemuan cebakan ( kbbi  =  bahan tambang)  Erstberg dan Grasberg. Untuk saat ini kedua area inilah yang telah dan sedang ditambang dengan seluruh kekuatan manusia melalui tehnologinya.

Bagaimana tidak dalam hitungan puluhan tahun saja area Esrtberg dan Grasberg yang ditambang sejak tahun 1967 sudah meninggalkan lubang menganga. Itu yang tampak dipermukaaan, tetapi  ditahap selanjutnya penambangan itu terjadi di bawah tanah. Jadi secara faktual sebenarnya Puncak Jaya itu sudah terpotong puncaknya sekaligus seudah keropos dalamnya. Bagaimana ini bisa terjadi, tehnologilah yang berbicara.

Peresmian pengolahan Esrtberg pada tahun 1973 oleh Presiden Suharto sekaligus menandai beroperasinya tambang dan mulai berproduksi.

Tambang dengan lokasi terpencil dan di atas gunung adalah satu-stunya di dunia yang ada di Papua ini. Dalam sejarahnya lokasi ini disebut wilayah New Guinea. Pulau yang besar ini terpisah menjadi dua di masa kolonial, saat itu Jerman dan Inggris menguasai bagian Timur dan Belanda bagian Barat. Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya di tahun 1945 Belanda belum mau melepaskan Irian Jaya atau New Guinea Barat, karena mengklaim etnis Papua tidak sama dan bukan bagian dari Nusantara. Baru pada tahun 1963 Belanda menyerahkannya ke Pemerintahan Indonesia setelah melalui referendum. Pada saat Pemerintah terjadi peralihan presiden dari Sukarno ke Suharto, maka langkah pragmatis membangun ekonomi Suharto adalah menandatangani kontrak karya I dengan Freeport Mc Moran di tahun 1967, merupakan sejarah pertama kalinya menerapkana Penanaman Modal Asing. Hal itu berlangsung sampai saat ini 2023. Kontrak karya tahun 1991 diperbarui setelah ditemukannya Grasberg sehingga area penambangan menjadi sangat luas dibanding sebelumnya. Dikabarkan kontrak karya berakhir di tahun 2041. Kepemilikan saham pun saat ini diberitakan manjadi 51 persen melebihi porsi dari Mc Moran. Hal ini sangat jauh dibanding tahap awal dulu kepemilikan saham Indonesia hanya 10 persen.

Begitulah cerita operasional tambang ada pada bagian 2 dan 3, Sementara pada bagian 4 adalah pengembangan kota dan sumber daya . Ada capaian penting dalam kehadiaran Pt Freeport di Mimika yaitu adanya pembangunan Kota Baru yang kemudian diubah namanya oleh Presiden Suharto pada peresmiannya 15 Desember 1995 menjadi Kuala Kencana. Kota ini unik yaitu dibangun dengan tetap memeliharan keasrian lingkungan , di bawah pepohonan dan sebagian hutan, serta aliran sungai yang alami. Bangunan dan peralatannya dibangun dengan peralatan modern, jadilah Kuala Kencana sebagai Kota modern di tengah hutan. Disana ada fasilitas pusat pembelanjaan modern, sampai sekolah bertaraf internasional. Dukungan sarana kesehatan ada rumahsakit Internasional, Bandara bertaraf International yang siberi nama salah seorang tokoh Moses Kilangin.

Flash Back ke bagian 1 dan 2, sejarah adanya perusahaan raksasa Freeport yang mengolah dan menambang Tembaga Emas dan Perak ini berawal dari keyakinan seorang geolog muda Jean Jaques Dozy dalam ekspidisinya 1936  berhasil mendekati kawasan Ertsberg dan membuat petanya pada ketinggian 3800 dpl. Cebakan Ertsberg diyakini mengandung biji tembaga. Pada tahun 1959 seorang Amerika manager eksplorasi Freeport Sulphur Forbes K Wilson menemuinya dan meyaikini atas penemuan Dozy. Impian itu terwujud setelah Forbes K Wilson menjadi presiden Freeport Mineral dan menambang temuan Dozy tersebut.

Peristiwa ini adalah bukti bahwa keyakinan atas ilmu pengetahuan, bertemuan keyakinan dengan pengusaha dan pengalaman tambang di berbagai belahan dunia di Cilli dll maka apa yang dianggap mimpi berhasil terwujud. Potensi besar yang ditemukan Dozy digambarkan  “. Eertsberg bagaikan gunung emas di bulan.” Karena begitu sulitnya medan.

Banyak nama-nama berasal dari Belanda seperti Puncak Carstensz merupakan puncak gunung Pegunungan Sudirman yang selalu bersalju di tengah jalur khatulistiwa. Hal itu ditemukan oleh Kapten kapal laut Jan Carstensz yang menyusuri Pantai Selatan New Gunie yang sering melihat pemandangan itu, sehingga namanya diabadikan disana. Pemerintah Belanda saat itu juga mendambakan kebanggaan bahwa seorang Belanda  berhasil menjadi orang pertama mendaki puncak bersalju itu. Akhirnya berhasilnya seseorang bernama Lorentz.

Pada tahun 1907 Belanda melakukan ekspidisi besar-besaran untuk menyelidi lebih dalam bagian barat New Guinea. Karena itu dikerahkan pasukan bersenjata berjumlah 800 orang dan memakan waktu 7 tahun dengan memakan biaya 5,5 juta Golden. Keadaan di lapangan yang dihadapi sangat ganas sehingga 79 orang meninggal.  Ekspidisi ini pada tahun 1915 menghasilkan peta New Guinea cukup telioti  skala 1 ; 1 juta.

Pada tahun 1909 Lorentz bergabung dalam ekspiidisi pemerintah berama J.W Van Nouhuys dan letnan D Habbema dan dikawal  61 tentara dan 82 orang Dayak dari Kalimantan sebagai pembawa barang. Lorentz berhasil mendaki puncak Trikora (Wilhemina) yang saat itu bersalju diketinggian 4730 meter.

Ekspidisi lainnya dilakukan oleh perkumpulan Ornitologis( Ilmuwan Burung) dipimpin Walter Goodfellow dan ternyata gagal mencapai puncak Kegagallan ekspidisi ini lebih banyak disebabkan hujan dan banjir yang tiada hentinya, hujan lebat dan penyakit. Selain itu besarnya rombongan sebanyak 400 orang menyebabkan kesulitan perbekalan. Dari 400 orang hanya 15 orang yang mampu sampai berakhirnya akspidisi selama 15 bulan.  Anggota ekspidisi yang terserang malaria, beri-beri dan disentri  atau pnemonia dikirim pulang atau mati di lokasi.

Meskipun ekspidisi Inddris mengalami kegagalan, namun disisi lain berhasil membawa pulang 2.200 kulit burung berasal dari 225 spesies, banyak diantaranya spesies baru dalam ilmu pengetahuan, berpeti-peti penuh berisi contoh.  reptil dan seranggga. Rawling dan E Marshall juga berhasil membuat peta daerah setempat dengan skala 1 ; 250.000.  Semua cerita ini menggambarkan betapa gigihnya seseorng dengan dasar pengetahuannya. ( saat itu tahu 1910-1912)

Pada akhirnya penemuan Grasberg terjadi setelah 15 tahun kemudian diolah sejak ditemukannya Ertsrberg. Letaknya hanya 3 kilometer saja. Menurut pandangan geologi konvensional Grasberg yang ditemukan Dozy 50 tahun lebih yang lalu hanya berisi endapan tembaga porifori berkadar rendah. Namun di tahun 1996 ditemukan kenyataan bahwa Grasberg mengandung deposit sebesar 1,76 milyar batuab biji berkada 1,11 persen  tembaga, sedangkan lainnya kandungana emas tinggi sebanyak 49 juta troy ons.  Ini adalah permata paling besar dan berkilau dalam mahkota Freeport  ( hal. 137) .

Karena ini pula maka adalah menjadi pemandangan aneh juga jika kita bisa melihat alat-alat berat bisa didatangkan di puncak gunung dengan ketinggian di atas 400 meter. Roda truk yang berdiameter 3 meter, atau mesin penggiiling batuan raksasa di sana, dan alat berat lainnya. Semua itu ada karena kemajuan tehnologi. Dengan kondisi ini pula, pengiriman material hasil tambang dikirim dari Puncak Gunung sampai pelabuhan melalui pipa. Dalam material yang dihaluskan kemudian digelontor air dan diberi tekanan tertentu sampailah di pelabuhan besar.  Material dalam bentuk konsntrat siap dikapalkan ke berbagai negara.

 Di dalam buku ini juga banyak disisipkan foto zaman dulu, seperti perahu ekspidisi, peta-peta coretan Dozy, Foto pesawat Amerika yang pertama mendarat di lembah Baliem di danaunya. Foto pesawat Siberkey yang membawa Dozy dkk berhasil melihat tonjolan batuan yang kelak dinamakan Erstberg dan Gasberg di peta coretannya. Buku ini secara keseluruhan menggambarkan betapa manusia sangat gigih mendapatkan sesuatu dengan penuh keyakinan yaitu pengetahuan dan tehnologi.

Naskah tesis atau laporan Dozy yang sudah berdebu di perpustakaan ditemukan oleh orang yang yakin dan bermodal hal itulah yang mengantar berdirinya tambang multi nasional PT Freeport Indonesia. Cebakan biji ini sebenarnya ada dalam perut bumi di sepanjang Pegungan Puncak  Sudirman......bahkan dalam peta menyambung dengan pegunungan di Papua Nugini. Bagaimana keadaannya setelah habis kontrak tahun 2041 nanti. Inilah tantangannya bagi pemuda Indonesia.

 

Blitar, 11 Januari 2023

Hariyanto

 

 

 


Selasa, 03 Januari 2023

Parade Puisi P 2.0 Meniti Matahari

 


PARADE PUISI 2.0 

MENITI MATAHARI

Oleh : Hariyanto

 

semburat kuning di langit timur

menandai guratan wajah

bocah yang memecah tangis

di tengah deru langkah

kaki telanjang

ibu mendekap

keranjang

 

03 Jan.2023

 

 

MUTASI

Oleh . Hariyanto

 

hidup  bak roda

memutar nasib

pada gerigi hari-hari

 

otot lunglai menghela angin

menggenggam harapan

berjatuhan

 

di sini dan di sana

 

03 Jan 2023

 

 

CUACA EKSTRIM

Oleh. Hariyanto

 

daun pintu berdebum

berkali-kali

 

air laut pasang

mendesah badai

 

hujan deras

bercampur salju

mengaduk musim

daun di ranting bergoyang

keheranan

 

 

03 Jan 2023

 

 

 


Minggu, 11 Desember 2022

RESENSI BUKU RESITAL MUSIM

 

Oleh : Hariyanto

Judul Buku               : Resital Musim Kitab Puisi Tiga Bait

Penulis                      : Komunitas Putiba Indonesia

Editor                          : Tengsoe Tjahjono

Penerbit                     : DELIMA, Sidoarjo,  cetakan 1 ,2022

Kode QRSBN           : 62-1263-0813-963

Jumlah halaman      : xviii + 288 halaman

Harga Buku              : Rp,85.000

            Buku dengan judul Resital Musim kali ini adalah sebuah buku antologi puisi yang dikumpulkan oleh pecinta puisi di bawah asuhan Tengsoe Tjahjono. Pemilihan kata “musim” ada kaitannya erat dengan tema yang disajikan yaitu “kalender” yang bisa diartikan pertukaran musim, pertukaran waktu, baik detik, jam, hari  maupun bulan dan tahun. Sedang kata Resital menurut wikipedia berarti pertunjukan musik yang biasanya ditunjukkan karena seseorang atau suatu grup musik telah mempelajari beberapa lagu baru dan ingin menunjukan kebolehannya di publik. Lagu yang dimainkan bisa lagu ciptaan sendiri maupun lagu ciptaan orang lain.

            Membaca buku kumpulan puisi seperti ini memang harus dipahami dulu jenis puisi yang ada di dalamnya. Sub Judul buku ini merujuk katagori puisinya Kitab Puisi Tiga Bait, yang dikenal dengan akronim putiba. Buku ini dihimpun dari 92 penulis dan  lebih dari 200 puisi tersaji di dalamnya.Buku ini langsung dieditori oleh Tengsoe Tjahjono, penyair, budayawan, dosen dan sekaligus pendiri Komunitas Teras Putiba Indonesia.

            Dalam buku,”Berumah dalam Sastra 3” karya Tengsoe Tjahjono dijelaskan bahwa putiba adalah merupakan kependekan dari puisi tiga bait. Putiba merupakan jenis puisi modern yang memiliki bentuk ucap yang bebas, baik cara membangun irama dan kata-kata yang dipilih. (hal. 98) Lebih lanjut dijelaskan ada dua variasi  yaitu putiba bebas dan putiba tiga.  

Ciri putiba bebas adalah : 1) Terdiri atas 3 bait, 2) Jumlah baris dalam setiap bait tidak dibatasi, 3) Setiap bait mengandung satu ide pokok, 4) Unsur diksi, irama, dan bentuk harus hadir secara baik. Menilik ciri putiba bebas ini tentu lebih luwes dalam penulisannya. Dan ini merupakan ciri puisi modern yang tidak terlalu terikat akan aturan semisal jumlah baris dalam satu bait, maupun irama di akhir baris. Jadi penulis (termasuk calon penulis puisi) dibebaskan berekspresi dalam bentuk karya puisi asalkan berjumlah 3 bait, tentu saja dengan tetap memasukkan unsur diksi dan irama. Syarat demikian akan memudahkan menulisnya.

Berdasarkan kemudahan syarat putiba variasi bebas itu “agak longgar” dapat ditebak hampir 99 % karya puisi putiba termasuk jenis ini.

            Sementara ciri putiba tiga : 1) Terdiri 3 bait, 2) Setiap bait terdiri atas 3 baris, 3) Setiap baris terdiri atas 3 kata, 4) Setiap bait mengandung satu ide pokok, 5) Unsur diksi, irama, dan bentuk harus hadir secara utuh dan padu. Ciri ini lebih memberikan batasan agak ketat terkait jumlah baris dan jumlah kata. Karena adanya batasan “agak ketat” ini maka dalam buku Resital Musim yang memuat lebih 200 puisi hanya saya temukan 6 judul saja yang murni menulis puisi variasi putiga tiga. Tercatat karya Evy Christ  ( hal 80-83)  dan Lucia Nucke Idayani (hal 133-136), Coba kita lihat bersama dan kita nikmati puisinya karya Lucie Nucke Idayani versi putiba tiga.

OKTOBER

Daun menguning satu

Berbisik tanpa kata

Aku bertambah tua

 

Sebentar lagi bersemi

Menunggu perintah hujan

Kepada bulan di peraduan

 

Oktober selalu berlalu

Satu daun kuning jatuh

Terbang teretangkap hujan

 

Begitu ketatnya tiga bait tersusun rapi dalam tiap baitnya ada 3 kata. Dalam setiap bait menyiratkan kesatuan makna yang bagus. Dan jika ditangkup dalam tiga bait menjadi kesatuan makna yang begitu dalam. Semua kata dipilih dengan makna yang tepat, diksinya apik dan susunan irama dalam satu baris begitu sering kentara. Lihatlah pada baris kedua : berbisik tanpa kata / beradu irama dengan kata “tua.” Sementara di bait kedua  : Lagi bersemi  / huruf i dengan i    dan hujan dengan bulan dan peraduan. ....semua tersusun indah. Apakah pembaca juga merasakannya ?

Dengan adanya pilihan dua variasi putiba maka penulis dan calon penulis putiba bisa menentukan pilihannya dalam berkarya.

 

            Sampai disini saya hanya ingin menggaris bawahi putiba ini mempunyai ciri khusus pada sisi jumlah baitnya ada tiga. Titik. Dalam prespektif lain dalam buku Resital Musim ini saya juga menemukan puisi sangat pendek berjumlah 3 baris saja. Puisi itu ternyata juga digagas oleh Tengspoe Tjahjono yaitu putibar. Salah satu contoh di buku tersebut karya Abi Utomo berjudul “Tangga Kematian” :

Kubunuh aku yang dahulu

Untuk tumbuh aku yang baru

Menyemai aku, aku dan zaman baru.

 

Betapa ringkasnya puisi ini, namun betapa dalamnya makna yang dikandungnya. Dari  sini disamping ide gagasan yang bagus, juga dibangun dengan tehnik pengulangan dan rima.

            Cak Inin juga menyuguhkan satu karya putibar di buku Resital Musim berjudul  “BATANG USIA.”

 

Lima dasa warsa berlalu

Gigi tanggal mata kabur putih rambutmu

Belum cukupkah tengara itu ?

 

Disini Cak Inin seperti menggambarkan dirinya yang sudah menginjak usia 50 tahun lebih. Makna yang sebenarnya menuju kepada semua manusia pada umumnya tentang adanya ciri penuaan yang tidak bisa tidak mesti dilalui, dan harus dijadikan peringatan untuk kebaikan dirinya.

 

            Ada catatan bahwa buku ini ditulis oleh 92 penulis yang lolos kurasi dengan berbagai latar belakang sangat beragam. Ada yang berprofesi guru atau dosen ( mayoritas ) , ada orang biasa, ada ibu rumah tangga, ada dokter ada doktor, ada kyai ada biarawan dan biarawati, mereka semua menulis.  Siapa pun mereka, dengan berbagai profesi, mereka menulis bukan untuk menjadi “penyair” , “sastrawan.” atau “pujangga.” Bagi kita menulis berarti berbagi cinta, empati dan solidaritas di tengah-tengah masyarakat material dan hedonis dewasa ini.. Menulis adalah kerja kemanusiaan. Demikian Tengsoe Tjahjono menegaskan.

            Buku ini cukup tebal untuk sebuah antologi puisi. Terdiri dari 18 halaman depan dan 288 halaman isinya, Membacanya cukup membuat bahagia, jika kita bisa menikmati. Dan karena tebal dan banyak puisinya maka ada istilah keren kita nikmati saja “ngemil” nya. Sedikit-sedikit sambil diresapi maknanya.

            Sungguh tidak rugi memiliki buku ini, karena ada berbagai keuntungan. Pertama puisinya dijamin mempunyai nilai lebih karena melalui proses “kurasi” yang ketat dari seorang penyair Tengsoe Tjahjono. Kedua, dengan membaca puisi yang ada sekaligus pembaca bisa belajar membuatnya dengan  cantik dan indah.

            Buku ini jika kita cermati dari setiap judul dan isinya kita akan segera paham bahwa ada tema tertentu yang diangkat yaitu KALENDER.  Tema kalender yang diajukan merujuk pada waktu penanggalan yang bisa diangkat menjadi sebuah ide pokok tertentu. Uniknya walau pun bertemakan kalender, namun jarang sekali isinya ada kata “kalender.”  Ada beberapa yang mengangkat sebagai judul kata tersebut, namun sebagian besar tidak ada kata kalender yang tersemat disana.

Mari kita cermati salah satu karya Ellis P Hermananingsih berjudul “SANDYAKALA”

 

Senja merona

Bumi berputar

Lari berpacu dengan tanggal

 

Oh, kau tanggal merah

Merahmu terhenti dalam hirukpikuk nafsu duniawi

Tawa lepas pelaku aktivitas

 

Tanggal-tanggal hitam

Terisi caci maki dari mulut-mulut pemalas

 

Dalam tubuhnya, tema kalender digantikan dengan  kata “tanggal.” Coba kita bandingkan dengan karya Cak Inin yang ada di buku ini berjudul “Batang Usia.”

 

Lima dasa warsa berlalu

Gigi tanggal mata kabur putih rambutmu

Belum cukupkah tengara itu ?

 

Putibar Cak Inin ini mengandung kata Lima dasa warsa untuk mengganti kata “kalender,” Terakhir kita cermati karya Usdhof berjudul MOTOR TUA (hal.241)

 

Suara kasar mengggelagar dari corong buntutnya

Memecah kesunyian di panas terik

Ada apa ?

 

Rodanya mermbat di atas pematang

Menggonceng dan menggendong setumpuk karung

Masih kuatkah ?

 

Corong buntutnya masih mengepul

Rodanya masih kuat melintas pematang

Hingga September menjerit

Bensin tak terbeli.

 

Karya beliau ini indah dan penuh makna yaitu perjuangan hidup petani yang hidupnya di bawah miskin yang sangat rentan terhadap daya beli “bensin” untuk sehari-hari. Hal ini bisa diartikan sebagai makanan pokok, sedang tak terbelinya bisa jadi karena kebijakan kenaikan harga. Penafsiran arti seperti ini boleh saja berbeda dengan pembaca lainnya. Dan berbagai penafsiran dengan logika yang benar membuat puisi semakin bermakna. Disini sekali lagi kata “kalender” tidak nampak namun diganti dengan kata “September” sebagai bagian dari kalender.

           

            Dari buku ini kita bisa belajar banyak, seperti penggalian tema yang bisa dikembangkan dengan berbagai kata lain yang memiliki arti serupa atau sejalan dengan tema pilihan. Tema “kalender” yang ditetapkan oleh Tengsoe Tjahjono sebagai pihak panitia ternyata sudah dijabarkan dengan sangat baik oleh 92 penulis puisi yang ada di buku ini.

            Kita juga bisa belajar misalnya tentang menulis puisi yang baik. Pedomannya singkat saja. Semua mudah dibaca bahkan dipahami. Puisi terdiri dari 3 bait misalnya, maka syarat itu memang yang harus dituruti. Mudah kan ? Putiba memang menjadi salah satu pilihan menulis puisi dalam bentuk sederhana dan ringkas. Eka Budianta dalam Prolog di buku Resital Musim ini  menjawab pertanyaan bagaimana menulis puisi istimewa ?

            Jawabnya akan muncul setelah kita membaca, menyerap informasi sebanyak-banyaknya, menghayati kehidupan serta menerima semua masukan dengan hati yang tulus,pikiran yang terbuka dan jiwa yang merdeka, demikian papar Eka Budianta seorang sastrawan nasional dan biographer.

 

            Jika ingin memiliki buku ini harus memesan khusus ke editornya, bisa melalui penulis puisi seperti Cak Inin dan Bung Usdhof. Selamat menulis puisi bagi semua pembaca. Nikmati ngemil buku semacam, insya Allah menjadi bahagia. Aamiin.

 

Blitar, 11 Desember 2022

Hariyanto