Jumat, 15 September 2023

ChatGPT Sumber Huru-Hara Baru: Ancaman atau Harapan ?

 




Oleh ; Hariyanto

Pekan ini ramai diberitakan tentang beberapa penulis di Amerika menggugat open AI pemilik robot chat berbasis kecerdasan buatan chat GPT. Open AI dituduh menyalah gunakan hasil karya mereka untuk melatih chat GPT. ChatGPT adalah sebuah chatbot AI berupa model bahasa generatif yang menggunakan teknologi transformer untuk memprediksi probabilitas kalimat atau kata berikutnya dalam suatu percakapan ataupun perintah teks. (Wikipedia)

Beberapa penulis ternama yang menggugat OpenAI bersama-sama adalah Michael Chabon, David Henry Hwang, Matthew Klam, Rachel Louise Snyder, dan Ayelet Waldman.

Berdasarkan dokumen gugatan di pengadilan federal San Francisco yang dikutip Reuters, para penulis menyatakan OpenAI menyalin hasil karya mereka tanpa izin untuk mengajarkan ChatGPT cara merespons perintah (prompt) manusia.

Gugatan dari sekelompok penulis tersebut adalah gugatan ketiga yang atas OpenAI, perusahaan yang didanai dan sebagian sahamnya dimiliki oleh Microsoft. Selain OpenAI, Microsoft, Meta, dan Stability AI juga menghadapi gugatan hak atas karya intelektual terkait metode pelatihan AI mereka.

OpenAI dan perusahaan pengembang AI lainnya menyatakan metode mereka sah karena mengikuti prinsip "fair use" (penggunaan yang wajar) menggunakan material yang dikumpulkan dari internet.

ChatGPT diluncurkan pada 30 November 2022 oleh OpenAI, pembuat DALL-E 2 dan Whisper AI. Awalnya layanan diluncurkan secara gratis, dengan rencana monetisasi layanan nanti. Pada 4 Desember 2022, ChatGPT sudah memiliki lebih dari 1 juta pengguna. Sejarah. awalnya  pada Desember 2015, Elon Musk, Sam Altman, dan para investor lainnya mengumumkan pembentukan OpenAI dan menjanjikan lebih dari US$1 miliar untuk usaha tersebut.

Kemunculannya sejak 2022 lalu itu ternyata mendapat respon positip dari seluruh dunia karena kemudahannya di akses disamping kecepatannya. Seiring perkembangannya tersebut ternyata banyak menimnbulkan benturan seperti gugatan para penulis Amerika tersebut.

Mengapa mereka para penulis menggugat ?

Karena mereka para penulis sudah menganggap robot AI telah mengambil beberapa bagian karya mereka dan menjiplaknya setelah dirangkum. Mereka menuduh Chat GPT bisa secara akurat merangkum hasil karya mereka kemudian menciptakan teks yang menjiplak gaya penulisannya. Jenis datanya bervariasi dalam jumlah besar seperti menggunakan  berbagai jenis teks, seperti artikel, buku, situs web, dan banyak lagi.

Karena hebohnya berita tersebut salah satu stasiun TV Swasta mengangkatnya topik yang menggigit  “ CHATGPT MAKIN EKSIS, SIAP BEGAL KARYA TULIS?” videonya pun semakin viral. Dalam acara livenya TV tersebut menghadirkan 2  narasumber yaitu Prof. Yusuf Irianto, guru besar FISIP Universitas Erlangga dan Ahmad Fuadi seorang Novelis muda  berbakat.

Dari pendapat mereka berdua ada kesamaan pendapat bahwa chatGPT adalah salah satu bentuk tehnologi, pada dasarnya untuk membantu tugas manusia. Maka sebagai alat tehnologi AI ini harus dianggap sebagai patner yang bisa membantu meringankan tugas-tugas kita. Bukan dianggap ancaman atau lawan. Karena kemajuan tehnologi pada dasarnya sesuatu yang pasti terjadi. Hal itu juga tergantung pada manusianya memandang, apakah hal itu sebagai sesuatu untuk kebaikan atau sebaliknya.

Setidaknya dampak negatif harus dihindari, seperti menganggap data yang disajikan sebagai data yang sudah matang. Harusnya tetap dianggap sebagai data mentah yang perlu diolah, sehingga jika terjadi pada mahasiswa di Perguruan Tinggi tidak boleh mengambil mentah-mentah lalu mengakui sebagai karyanya. Disamping itu tentu saja Perguruan Tinggi sudah memiliki perangkat tersendiri untuk memeriksa sebuah karya tulis dan ada nilai toleransinya atas kesamaan data yang ada untuk dianggap sebagai karya bukan plagiat.  Demikian ringkas penjelasan Prof. Yusuf Irianto, sedangkan Ahmad Fuadi menambahkan untuk tidak mengakuinya sebagai miliknya atas kutipan-kutipan yang didapat dari AI chatGPT.  Khusus untuk bentuk tulisan fiksi tentu akan lebih sulit lagi AI menirunya, karena ada nilai rasa, emosi untuk ada pada manusia dan keluar dari hati.

Sarannya kepada penulis lebih baik fokus pada kreativitasnya, pada emosional dirinya, personalitynya menyangkut gaya dan perasaan sesuai hatinya. Gunakan  chatGPT saat ide “menthok” agar  bisa dicarikan ide dasarnya lalu diolah.

Ganjang-ganjing atau huru-hara berita chatGPT yang mulai berkembang dan menimbulkan gejolak ini , Presiden Jokowi urun rembug, meminta warganya untuk  tidak takut AI,  karena manusia punya hati, mesin tidak punya.

Kesimpulan singkat adalah kita sebagai pengguna tehnologi AI seperti chatGPT harus tetap memperhatikan sisi positipnya. Gunakan hal itu untuk membantu kita mempercepat pekerjaan dan meningkatkan kualaitas diri. Jangan jadikan ancaman tetapi jadikan patner.  Besok kita coba sedikit mengeksplor kemampuan chatGPT dalam membuat puisi. (Bersambung)

Blitar, 15 September 2023

 

 

 

2 komentar: