Kamis, 02 Desember 2021

Mengenal Buku 100 Pentigraf Klaster Bicara (4) : Bisakah Pentigraf Diajarkan Di Sekolah ?

 



Mengenal Buku 100 Pentigraf Klaster Bicara (4) :

Bisakah Pentigraf Diajarkan Di Sekolah ?

Oleh : Hariyanto

 

Bisakah Pentigraf diajarkan di sekolah ? Ini pertanyaan yang mengandung “literasi “ di dalamnya. Jika sekolah mengembangkan literasi, pasti sudah paham betul akan tahapan Gerakan Literasi Sekolah. Penggeraknya baik guru maupun Kepala Sekolah pasti akan melihat 3 tahapan dalam pengembangan literasi sekolah yaitu : 1) Pembiasaan, 2) Pengembangan dan 3) Pembelajaran.

Ketiganya seolah  terpisah namun sejatinya bisa dilakukan bersamaan. Memang pembiasaan itu hal sangat penting sebelum langkah berikutnya. Justeru langkah menarik minat baca inilah yang menjadi tantangan terberat saat ini. Gambaran hasil survey yang menemukan fakta minat baca pelajar Indonesia sangat rendah harus dijawab dengan program nyata. Setidaknya contoh dari guru dan warga sekolah untuk menunjukkan perilaku berliterasi harus dimunculkan. Bukan sekedar action “gaya-gayaan” namun membaca harus dijadikan budaya. Hanya di masa sekarang membaca tidak harus buku kertas, dan bisa digantkan dengan e book membaca tanpa kertas.

Jika tahap pembiasaan membaca sudah tertanam, maka pada tahap pengembangan kita bisa bicara banyak hal. Sebagai contoh belajar menulis puisi dan atau cerpen. Disinilah Pentigraf atau cerpen tiga paragraf menjadi sangat memungkinkan diajarkan di sekolah.

Ada banyak faktor yang bisa dicatat sebagai keunggulan “mengajar” pentigraf di sekolah antara lain :

1)    Cerpen ini terdiri dari 3 paragraf adalah sangat singkat. Kemudahan ini yang bisa dijadikan faktor “penyemangat” menulis.

2)    Tulisan berbentuk pentigraf bisa dilatih dari banyak kegiatan seperti kegiatan selepas membaca biasanya siswa disuruh membuat resume. Nah, resume bisa diwujudkan dengan jumlah 3  paragrafnya. Hal berkenaan menuju kesempurnaan pentigraf akan dilatihkan secara terus menerus.

3)    Contoh pentigraf banyak ditemukan di media melalui internet. Bahkan Kampung Pentigraf Indonesia sudah menerbitkan 6 buku kumpulan ratusan pentigraf pilihan. Hal ini bisa dijadikan contoh penulisan yang bisa dipelajari di sekolah dan di rumah.

4)    Pentigraf bisa ditulis dengan berbagai tema. Sangat luwes dan fleksivbel. Bahkan penggunaan majas dan peribahasa bisa dijadikan pentigraf sekaligus pembelajaran sastra.

Berikut pengalaman seorang guru yang optimis bisa membelajarkan pentigraf di sekolah yang penulis kutip dari Tribunnews.com bisa dijadikan renungan dan semangat. Selengkapnya bisa ditelusuri pada link ini :  https://suryamalang.tribunnews.com/2021/11/14/pentigraf-makin-populer-siswa-bisa-belajar-bikin-cerita-fiksi

Pentigraf Makin Populer, Siswa Bisa Belajar Bikin Cerita Fiksi
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin

 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Sarasehan memperingati lima tahun Kampung Pentigraf Indonesia (KPI) diadakan di Warung Joglo Jati, Sawojajar II Kabupaten Malang, Minggu (14/11/2021).

Pentigraf adalah cerpen tiga paragraf. Temanya adalah "Memanen Pentigraf di Kampung Digital".

Pembicaranya Ardi Wina Saputra MPd dari Unika Widya Mandala Madiun "Meneroka Komunitas Sastra Digital dalam KPI" 

Serta Prof Dr Djoko Saryono MPd, Gubes UM "Merintis Ekosistem Hibrid Fiksi Indonesia, Berkebebasan dan Berkebahagiaan".

 

Menurut Tengsoe Tjahjono, Lurah KPI, kini peminat pentigraf makin banyak dan dari berbagai kalangan.

"Bahkan juga ada jagal sapi dan profesi lainnya. Guru-guru apalagi," kata Tengsoe di sela kegiatan. 

Dikatakan, dengan diberikan di sekolah, siswq bisa belajar bagaimana menulis fiksi, alur, tema dengan mudah.

"Meski hanya tiga paragraf, tapi tetap ada narasinya, alurnya ada. Dan di paragraf ketiganya ada ketidakdugaan/kejutan," jelas dia.

Untuk anak-anak milenial yamg suka serba cepat, maka ini disukai. 

Pembaca juga butuh waktu cepat agar bisa mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan penulisnya.

Dari sarasehan itu juga ada cerita guru yang yang menyampaikan jika siswanya senang dengan menulis pentigraf.

Dikatakan Tengsoe, pentigraf punya prospek bagus.

"Saya kerap ada undangan dari guru-guru tentang pentigraf. Masa depan pentigraf bagus karena ada peningkatan apresiasi dari banyak kalangan. Saya pikir ini menjawab tantangan zaman ini," katanya.

 

Sedang untuk menerbitkan karya-karya pentigraf masih di penerbitan indie karena belum bisa menembus penerbit mayor. Tapi penerbit indie juga punya power.

"Pesan saya untuk  mereka yang tertarik pada pentigraf, jika menulis fiksi, maka cara belajar cepat adalah dengan pentigraf. Jika sudah belajar bagus, maka bisa menulis lebih panjang lagi," papar dia.

 

Dalam pentigraf ada formatnya sebagaimana menulis puisi, cerpen. Ini harus dipatuhi.

Pentigraf dikenalkan lagi oleh Tengsoe sejak 2014 hingga sekarang.

"Trend-nya baik. Berarti memang banyak orang rindu ruang untuk menulis," jawabnya.

Seorang guru juga memaparkan pengalamannya;

Pentigraf dinilai lebih sederhana dan mudah dibuat. Setidaknya, itulah yang dirasakan Nurul Khurriyah, kepala SMP Islam Krembung, Sidoarjo. Mahasiswa doktoral Pendidikan Bahasa dan Sastra Unesa itu kini mempelajari pentigraf. Dia berencana mengajarkan cara menulis pentigraf kepada anak-anak di sekolah yang dirinya pimpin serta SMK Islam Krembung, tempatnya bekerja. ’’Ini alternatif untuk mengekspresikan diri ke dalam bentuk karya. Ketika para siswa itu bisa mengaktualisasikan diri, rasa percaya diri mereka akan tumbuh,” ujar perempuan yang hobi menulis puisi dan esai itu. (Jawa Pos.com)

Pegiat pentigraf adalah Hendrika dari Malang. Ia memang suka menulis.

"Awalnya ya gak paham. Saya kenal pentigraf dari IG saat ada lomba," jelas perempuan ini.
Maka ia berselanjar di google mencari informasi dan menemukan KPI.

Setelah bertemu Tengsoe dan pegiat lainnya, setidaknya paham dengan pentigraf dan tantangannya bagaimana menyampaikan cerita dalam tiga paragraf.

"Jika bikin cerpen kan mengalir saja. Tapi di pentigraf harus 210 kata dalam toga paragraf dan ada kejutan cerita di akhir paragrafnya," kata warga Bandulan ini.

 

Ia menyebut dalam membuat pentigraf kategori tidak sulit juga tidak gampang.

Jika lebih dari 210 kata, ia edit lagi. Sehingga perlu memilih kata yang efisien.

Tokohnya juga harus satu karena ruangnya sempit. Ide-ide yang didapatnya untuk jadi cerita dari lingkungan sekitar.

Kadang melihat tukang becak bisa jadi ide.

Kadang karyanya dijadikan status WA dan dikomen oleh teman-temannya. Ia berharap masyarakat senang membaca dan menulis.

Pentigraf adalah salah satu genre.

Sedang Joko Saryono mengatakan, dunia digital adalah sebuah peremajaan kembali dari berbagai lapisan kebudayaan lampau. 

Karena di dalam dunia digital bermukim banyak sastra. Dalam dunia digital, sastra lisan menguat kembali.

"Kelisanan dapat ruang baru di dunia digital sebagai kelisanan sekunder. Maka sastra lisan bisa apa saja. Yang bangkit kembali tak hanya sastra lisan tapi manuskrip. Pondok pesantren juga menggebu-gebu untuk melakukan digitalisasi manuksrip," papar Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Dikatakan, pentigraf bukan sastra digital. Tapi juga bukan sastra naskah. Ia melihat pentigraf hidup berdampingan dengan dunia digital.

Sedang Ardi berharap tetaplah pentigraf dalam pola pikir keaksaraannya dan diunggah atau bermedia/hidup bersama dunia digital.

Tapi untuk menjadi digital, infrastruktur digital tidak bisa dilakukan dengan sekejap.

"Untuk berbagi kebahagiaan, bentuk sekarang ini paling nyaman. Jika dipaksakan, nanti teman-teman malah tidak berani dan mahal. Angan-angan boleh tapi tidak jadi keharusan. Malah bisa alih wahana jadi visual, audio," papar Joko.

Ia menyatakan banyak kenal teman-teman difabel yang juga perlu menikmati karya sastra.

"Kita berpikir kenormalan saja. Ketika sastra cetak muncul, kenapa tidak ada sastra audio. Bagaimana teman-teman yang buta, tidak mendengar. Sehingga jika ada alih wahana, maka akan bermanfaat," tandas Joko.

Kelahiran Kampung Pentigraf Indonesia (KPI) tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan silaturahmi para pentigrafis (sebutan bagi penulis pentigraf).

Ini ia gulirkan dan tulis sejak tahun 1980-an di koran lokal Suara Indonesia Malang.

Pada tahun 2015-an melalui facebook, ia mulai menulis lagi dan ia bagikan di dinding akun FB-nya. "Ternyata banyak kawan yang tertarik dengan pola fiksi seperti itu.

Bahkan, sebelum KPI terbentuk, antologi pentigraf pertama lahir dari KPK Deo Gratis, yaitu Pedagang Jambu Biji dari Phnom Penh (Juni, 2017).

Nah tunggu apalagi ? Menulislah pentigraf dan jangan ragu mengajarkannya di sekolah. Setidaknya siswa menjadi lebih mengenal dunia sastra negeri sendiri.

 

Salam Literasi,

 

Blitar, 2 Desember 2021

Hariyanto

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar