Rabu, 01 Desember 2021

Pentigraf : TUA-TUA KELADI

TUA-TUA KELADI

Oleh. Hariyanto


Tua-tua Keladi Makin Tua Makin Menjadi. Seperti biasa di hari Ahad Parto , Tirta, dan Parmin bersama selusin bersepeda bersama dengan rute yang disepakati. Gowes bersama kaum lansia. Kali ini mereka berangkat dari kampungnya di tengah kota Blitar menuju candi Penataran , sekitar 10 km ke utara. Rute ini berat karena jalanan menanjang pelan.

 

Di perjalanan pulang, Parmin izin ketua rombongan untuk  jalan duluan karena ada tamu menunggu di rumahnya. Jalanan aspal mulus benar-benar membuat sepeda melesat cepat. “Aku duluan lur  dulur *).......” Parmin menyapa teman-temannya sambil menyalip mereka. Parmin terkejut ketika dia dikejar oleh teman-temannya. Laju rombongan menjadi seperti balapan di sirkuit. Tirta pimpinan rombongan berusaha menjelaskan temannya tidak digubris lagi.

 

Perjalanan menjadi begitu singkat.  Kurang dari 30 menit sudah sampai pos akhir. Keringat deras bercucuran, napas tersengal dengan batuk kecil terdengar. Beberapa orang merebahkan diri di teras rumah. Kejadian pagi ini ternyata berbuntut panjang karena Tirta di demo  para isteri sahabatnya. “Jangan diajak gowes lagi, suami saya encoknya kambuh. Tergeletak mengaduh semalam, seluruh badannya nyeri.” Isteri Parto sangat emosi.  Hari ini Tirta benar-benar kesepian duduk di bawah pohon jati di Blitar Selatan. Sambil minum air mineral  dia melirik sepedanya sendirian.  Seluruh kawannya benar-benar mundur dari kelompok gowesnya.

 

Blitar, 1-12-2021

#pentigrafperibahasa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar