Sabtu, 23 Desember 2023

Belajar dari Kata Pengantar (3) IMAGINASI DALAM PUISI

 Oleh Hariyanto


          Kali ini kita akan membahas satu sosok lagi yang inspiratif yaitu Efrizal seorang guru dari Pariaman Kota Tabuik Sumatera Barat. Beliau menuliskan karyanya di grup WA Puisi 2.0 yang dijalanai selama hamper 3 bulan .Sebuah karya menumentalnya  berjudul “Mata Pena Bicara.” Lahir bersama penulis di grup belajar bersama Puisi 2.0 sejak Pebruari 2023.  Tercatat ada 2 penulis buku puisi 2.0 lahir dari grup WA belajar Puisi 2.0 yaitu Bu Kanjeng dengan buku “Pesona Cakrawala Aksara,” dengan 171 puisi 2.0 yang saat itu saling mengejar tulisannya bersama Efrizal

Buku “Mata Pena Bicara” yang terdiri dari 250 puisi 2.0 yang berkisah tentang banyak hal. Seperti orang bernapas, begitu mengalir udara bebas keluar masuk dan berirama,  namun tidak banyak dirasakan oleh orang, namun tercatat indah dalam untai puisi Efrizal. Maka tulisan indah yang disusun dengan bangunan kata yang tidak lebih 20 kata ini menjadi sebuah tuturan kisah hidup atau gambaran langkah kehidupan pada moment kejadian tertentu.

          Begitu sederhana, hal yang ditemuinya sehari-hari jika ditulis dalam bentuk puisi akan menjadi kisah hidup, walau bukan seperti buku harian atau otobiografi. Seperti layaknya orang berjalan Efrizal begitu menikmati hidup dengan menangkap berbagai moment di sekitarnya. Seperti dalam 2 puisinya di awal buku ini Mata Pena Bicara. Seolah menegaskan bahwa dari mulut yang terdiam atau telinga yang tertutup, namun mata pena bisa berkisah banyak hal. Dari sini maka mengalirlah kisah selanjutnya begitu lancar.

          Ratusan judul puisinya menggambarkan kejeliannya berkisah...walau dalam judul yang sama namun ada sisi lain yang dikisahkannya. Mata Pena Bicara, dan Dentingan masing-masing diceritakan dalam 2 puisi yang berbeda, Laskar Sosial  1,2 , Bika 1, 2  dan Dendang 1, 2, seolah menggambarkan asal penulis dalam judul puisinya Pariaman Kota Tabuik. Di saat Ramadhan 1444 H tiba maka lebih dari selusin puisi menggambarkan suasana ramadhan tersebut di bagian akhir buku ini.

          Itulah kisah IMAGINASI seseorang terhadap satu objek atau peristiwa sekitarnya. Dan berikut ini adalah kupasan tentang Imaginasi oleh Sang Pengagas Puisi 2.0 Dr. Endang Kasupardi, M/.Pd dalam kata pengantarnya pada buku “Mata Pena Bicara.”Semoga menginspirasi. Aamiin. Selamat mncermati.  

 

GERAK IMAJINASI DALAM PUISI

Oleh : Endang Kasupardi

 

Imajinasi tidak hanya kekuatan berpikir tapi ada ruh rasa yang mengisi pikiran. Sehingga pikir memiliki kekuatan rasa. Secara teori Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Maka, definisi ini akan terasa hanya ada kulitnya saja tanpa isi yang bergizi bagi keseluruhan makna imajinasi.

Imajinasi dalam puisi mengokohkan Puisi sebagai karya sastra tulis dan lisan yang di dalamnya berisikan pikiran, perasaan, pesan, dan imajinasi penyair.

Imajinasi tidak perlu dibatasi panjang pendeknya sebuah tulisan, sebab tulisan yang sudah lengkap dengan pikiran dan perasaan, sekalipun pendek memiliki gema dan makna yang menyentuh ketinggian, dan mengakar pada kedalaman.

Paling tidak, puisi 2.0 pada buku ini sebanyak 250 buah, berusaha dan bekerja keras mencapai imajinasi dalam puisi ini.

Puisi di bawah  ini misalnya, gerak imajinasi sudah jelas dan arah pun sudah ditunjukkan. Kita simak

 

MATA PENA BICARA. 1

 

walau mulut diam

telinga selalu mendengar

walau diri kaku

mata selalu mengawasi

walau membisu

hati tidak bungkam

mata pena bicara

 

Puisi yang berjudul mata pena bicara 1 ini sudah memasukan imajinasi jiwa dan raga.

 

Raga diimajinasikan sebagai sebuah kekakuan atau kita sebut Patung. Namun ditengah mematung ini, ruh tetap berfungsi, berjalan sebagaimana mestinya.

Mulut kaku, tapi ia masih menyimpan apa yang akan dibicarakan, telinga kaku tapi masih mendengarkan, seluruh badan kaku tapi fungsi ruhnya tetap berjalan dan mencari celah untuk dituangkan dan ia berimajinasi kemudian menuangkan pada mata pena yang mewakili dirinya.

Imajinasi ini kemudian menjadi penting karena kemudian akan melahirkan berbagai perumpamaan yang tidak mengibaratkan dirinya sendiri dalam mengungkapkan isi pikiran dan perasaan.

250 puisi 2.0 pada buku ini menggambarkan imajinasi sudah bekerja, tinggal menguatkan imajinasina sebagai milik penulis pada buku ini.

Selamat bung Efrizal,

 

Garut, Medio Mei 2023

 

Dr. ENDANG KASUPARDI, M.Pd

Pemerhati Budaya, Bahasa, Sastra, dan Penggagas Puisi 2.0


Blitar, 23 Desember 2023

Salam

HARIYANTO

2 komentar: