Sabtu, 11 September 2021

BAGAI TELUR DI UJUNG JAGUNG

 

BAGAI TELUR DI UJUNG JAGUNG

Oleh : Hariyanto

 

Siapa bilang nasib kritis selalu di ujung  tanduk. Zaman sudah berubah. Pandemi Covid 19 turut berperan merubah tatanan. Mempercepat sekaligus memperlambat; antara dua sisi. Mempercepat manusia memahami perubahan dan menyesuaikannya. Mempercepat kolapsnya suatu usaha. Terlebih lagi jika usaha kecil, yang besar pun limbung banyak pula yang gulung tikar. Nasib semua perusahaan dan usaha bagai telur di ujung jagung, Itulah nyanyian peternak ayam.

            Bukan keuntungan yang didapat , tetapi kerugian setiap harian. Bukan hanya ratusan tapi ratusan juta bahkan lebih. Ada satu hal yang membuat peternak sering berdemo : “Turunkan harga jagung!” begitu singkatnya tuntutannya. Jika harga jagung tidak terkendali maka nasib peternak ayam petelur di ujung jagung.

            Harga jagung turun, hanya itulah permintaan peternak kecil. Yang menyiasati pakan pabrikan semakin mahal. Namun apalah daya. Suara kami berhenti di poster yang tergulung. Tak pernah sempat terbentang karena polisi keburu datang. Meringkus bersama kertas pajangan tentang keluhan mahalnya jagung. Kami peternak berteriak, menahan nyeri atas harga tidak terperi. Kami merugi dari hari ke hari. Kelangkaan jagung membuat telur menjadi tidak cantik lagi. Kami ingin jagung berharga sewajarnya, karena jagung ditanam di tanah sendiri. Peternak pun terus bernyanyi bernada elegi menyayat hati. Sementara para pejabat pun sedang merapatkan masalah jagung bersama pemilik perusahaan pakan. Begitulah selalu.

 

Blitar, 11 September 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar