Rabu, 29 September 2021

PANDEMI COVID 19

gbr. Merdeka.com



Malam ini saya mencoba menuliskan sebuah puisi yang tersusun tidak lebih dari 20 kata. Puisi 2.0 mungkin itu namanya. Semoga bisa menghibur hati. Aamiin. 

Menurut kisahnya puisi 2.0 adalah sebagai berikut:

Puisi 2.0 merupakan model puisi yang dikreasi oleh Dr. Endang Kasupardi saat menyelesaikan studi S3 di UPI 2010. 

Puisi ini lahir sebagai antisipasi jawaban atas perkembangan zaman yang serba cepat dan digital dengan tingkat kesibukan orang yg luar biasa. Dgn kondisi ini ke depan tidak ada lagi waktu untuk menulis atau membaca dan menikmati puisi yang panjang. Bgm caranya dalam waktu terbatas orang masih sempat menikmati puisi, maka solusinya harus dibuat puisi yang hemat kata tapi bermakna. Atas dasar itulah lahir puisi yang hanya maksimal 20 kata tapi bermakn

Tema kematian ini berawal dari obrolan kosong di grup private puisi membahas mengenai aneka peristiwa yg terjadi yang berujung kematian. 

[23.11, 29/9/2021] +62 812-2069-9119: Akhirnya muncullah ide untuk membuat antologi dgn judul "Ujung Jalan" diambil dari puisi saya.

[23.12, 29/9/2021] +62 812-2069-9119: Dengan tema ini mudah"an kita senantiasa diingatkan bahwa kematian itu pasti datang. itulah cuplikan percakapan WA dengan Bapak Enang Cuhendi, dalam grup WA  SOCIUS WRITERS II FKGIPS

Ini gambar cover buku yang menginspirasinya :




1.                         KELABU KAMPUNGKU

Oleh : Hariyanto

 

Sejak pagi awan kelabu di kampungku

Menyusup di remang kabut

Dinginnya melebihi hari kemarin

Bunyi kentong bertalu

Berita kematian 5 kali hari ini

 

Blitar, 29 September 2021

 

2.                         PAMIT

Oleh Hariyanto

 

Sore kemarin kita masih bercanda

Di sela azan mahrib

Menanti jamaah lainnya

Sore ini mengapa engkau pamit

Bersama Corona

merenggut segalanya.

 

Blitar, 29 September 2021

 

3.                         JAMAAH  ALAM KUBUR

Oleh : Hariyanto

 

Aku terkesima

Ketika terdengar suara dzikir

Bergemuruh di sela bambu

Di antara setapak jalan

Alam pemakaman

Aku terkesiap

Ada suaramu disana.

 

Blitar, 29 September 2021

 

4.     PANDEMI

Oleh; Hariyanto

 

Pandemi Covid 19

Menggoyang sendi hidup

Rontokkan pegangan

Kasih sayang

 

Himpitan hidup

Membelenggu  emosi

Engkau pun buta

Mencabut nyawa begitu mudahnya

 

Blitar, 29 September 2021

 

 

5.     KETIKA LUPA

Oleh; Hariyanto

 

Deru derap langkah siang hari

Menabur debu sesak hati

Kebut raih harta hari ini

Tangan kokohnya membalik malam

Melubangi  kuburnya.

 

Blitar, 21 September 2021

 

 

6.     SENYUMMU

Oleh : Hariyanto

 

Senyummu tak pernah kulupa

Seolah menyapa daa papa

Dalam bahagia

 

Nyanyian  bunga seroja

Kidung terakhir

Yang mama masukkan ke jiwa

 

Blitar, 29 September 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar