Minggu, 05 September 2021

SHARING MENULIS PENTIGRAF

SHARING MENULIS PENTIGRAF

Oleh Hariyanto



Acara SHARING MENULIS PENTIGRAF akan  diselenggarakan oleh komunitas grup WA " Rumah Virus Literasi"  (RVL) nanti malam. Silakan hadiri dan ambil manfaatnya. 

Apakah Anda tidak bisa konsisten menulis artikel panjang?

Sering mengalami kebuntuan saat menulis?

Tak punya kesempatan menulis tiap hari?

Apakah karena tidak ada waktu?

Mau tahu solusi jitu?

Maka, belajar menulis pentigraf menjadi solusi jitu atas kebuntuan itu.

Pentigraf??? Apaan sih? 

Sebagai salah satu karya sastra, pentigraf termasuk dalam kelompok cerita mini atau cerita pendek yang sangat singkat. Karya pentigraf ini lebih dibatasi pada jumlah paragraf atau alinea. Walaupun pendek, pentigraf tetap harus memiliki tokoh, alur, dan juga konflik. 

Sehingga perlu disiasati dengan pemilihan diksi yang tepat serta penguatan narasi dalam cerita. Untuk dialog atau percakapan lebih baik dinarasikan. Agar pentigraf memiliki daya tarik, baiknya ada kejutan pada akhir cerita.

Makin penasaran?

Yuk Join aja di Seri Berbagi Rumah Virus Literasi, kali ini yang akan  dikupas oleh Duet maut Pemateri sekaligus praktisi menulis Pentigraf:

1. Moech. Mudhofar, S.Th.I

(SMPN 41 Surabaya)

2. Febry Suprapto

(Instruktur Nasional Media Guru)

Kapan?

๐Ÿ—“ Ahad, 5 September 2021

๐Ÿ•— Jam : 19.30-21.00 WIB

๐Ÿก Tempat : Online Via-Zoom

Serius mau ikutan? Klik aja link berikut:

https://bit.ly/daftarpentigraf

CP. 081333148884

(Abdullah M)

Siapakah pemateri malam nanti ? Mereka adalah pentigrafis yang sudah berpengalaman. Termasuk warga Kampung Pentigraf Indonesia. Beberapa tulisannya sangat menarik terutama pada twist atau akhirannya, yang biasanya menyisakan "ruang kosong." Hal itulah yang akan memungkinkan pembaca bereksplorasi lebih jauh untuk menarik kesimpulan suatu ending pentigraf. Beberapa tulisan beliau saya kutip disini dari FB KPI dan untuk Bung Febry saya kutib dari WEB Gurusiana  sangat menarik seperti berikut ini : 


Ketika Jenazah Bingung Dengan Tempat Terakhirnya
Oleh Usdhof
Setelah meninggal ayahnya beberapa jam yang lalu, kakak beradik Paidi dan Paisol, masih beradu mulut mengenai tempat ayahnya harus disemayamkan. Permasalahannya dikarenakan lahan pemakaman di kampung sudah penuh. Lahan kosong ada di sebelahnya. Akan tetapi bukan tempat makam seagama.
Paisol menghendaki ayahnya segera dimakamkan di sebelah saja. Apalagi pihak makam mengizinkan sebagai rasa solidaritas di saat banyaknya kematian disebabkan pandemi ini. Akan tetapi Paidi, kakaknya, tidak mau. Alasannya khawatir di alam kubur nanti tidak mendapat kasih dan ampunan-Nya. Ayahnya tidak bisa bertemu dengan saudaranya yang seiman. Pikirnya Paidi dengan kukuh. Mereka masih berselisih sampai beberapa jam.
"Paidi! Paisol! cepat ke sini....!" Jeritan emak-emak yang sedang mengaji di ruang tamu mengagetkan para tamu. Bergegas mereka berdua berlari ke dalam. Mereka melihat ribuan rayap berbaris memanggul jenazah ayahnya. Lambat tapi pasti, rombongan rayap itu membawanya ke halaman belakang. Rayap itu memberikan tanda tempat terakhir bagi ayahnya seperti halnya mereka pernah menandai wafatnya Nabi Sulaiman dengan memakan tongkatnya tempat bersandar.
Gresik, 20 Agustus 2021
#pentigrafmoral


Penukar Rupiah di Pojok Kota DeKalb
Uang pecahan lima puluh ribuan sebanyak 20 lembar itu ditimang-timang. Mat Dasim menatapnya dengan penuh keheranan. Seharusnya dia akan mendapatkan uang tukar sekitar 100 dolar. Tapi currency exchange¹ di kota DeKalb itu tidak menerima rupiahnya. Sedangkan uangnya tinggal 20 dolar. Masih menunggu 3 minggu lagi rekeningnya akan terisi oleh sponsor studinya. Dia memasukkan kembali 19 lembar ke dalam tasnya. Satu lembarnya dibuka lebar dan dituliskan di pinggir kanan, "Tuhan aku titip rupiahku. Tertanda Mat Dasim!" Uang itu dimasukkan ke kotak kardus pengamen di ujung jalan Lincoln Highway Kota DeKalb. Ah! Musim panas ini terasa bertambah nyumer2 baginya.
Selang sehari ada telfon dari staf KJRI³ yang mengundangnya dalam ceramah agama. Mat Dasim mengiyakan tanpa berpikir honornya. Sebagai seorang sarjana agama, dia harus siap melaksanakan tugas tersebut.
Hari itu sepulang dari memberikan ceramah di depan jamaah konsulat, Mat Dasim menyerahkan amplop kepada istrinya. Ah! Paling cuma 50 dolar pikirnya. Belum sampai merebahkan tubuhnya, teriakan istrinya mengagetkan. "Mas! Ini kok ada uang 50 ribu rupiah dengan tulisan tanganmu?" ucap istrinya. Dibolak balik uang itu dan membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Uang 50 ribu rupiahnya kembali beserta 250 dolar. Malaikatkah si pengamen itu? pikirnya.
Gresik, 13 Agustus 2021
¹di Indonesia dikenal dengan money changer
²cuaca panas yang cukup menyengat.
³Konsulat Jenderal Republik Indonesia
Sumber foto: chicagoreporter.com

Berikut contoh pentigraf dari Bung Febry

Janda Oh Janda

Janda Oh Janda

Febry Suprapto

Entah apa yang merasuki Bu RT. Siang itu, dengan penuh semangat dia mengumpulkan semua ibu penghuni perumahan di rumahnya yang berhalaman luas. Ada peristiwa penting yang perlu disikapi oleh wanita yang terkenal judes tersebut dengan segera dan seksama.

"Ibu-ibu, mulai kemarin di lingkungan kita ada janda baru. Orangnya cantik dan pintar. Oleh karena itu, kita harus menjaga suami kita agar tidak tergoda olehnya. Jangan sampai kecolongan!" seru Bu RT dengan penuh semangat. Maklum, dulu sewaktu SMA dia pernah juara pidato tingkat Kabupaten. Para ibu heboh. Mereka sepakat dengan Bu RT. Sepulang dari pertemuan tersebut, mereka mulai mengucilkan si Janda.

Beberapa bulan berlalu. Pengucilan terhadap si Janda akhirnya berhenti. Seminggu setelah Bu RT meninggal, Pak RT menikahi wanita yang senyumnya semanis artis Maudy Koesnaedi itu. Para ibu gembira ria. Suami mereka aman terkendali. Lalu, bagaimana dengan Bu RT? Entahlah. Semoga dia legawa di alam sana.

_Pentigraf_

Bondowoso, 31082021

*Tobat*

Febry Suprapto

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) salah satu Masjid di Bandung melapor kepada Kyai tentang minusnya kas Masjid mereka bulan ini. Jumlahnya lumayan besar, 20 juta rupiah. Dengan lembut, Pak Kyai menjawab, "Perbanyaklah tobat kepada Allah."

Sepulang dari rumah Kyai, ketua DKM yang ramah itu mengumpulkan seluruh pengurus DKM dan menyampaikan pesan sang Kyai. Kemudian mereka memutuskan untuk melakukan _riyadhoh_: memperbanyak istighfar, menyempurnakan sholat tahajud, dan merutinkan tilawah al-Qur'an. Selain juga dengan melakukan ikhtiar memperbaiki dan menyempurnakan manajemen pengelolaan masjid.

Tak sampai dua minggu _riyadhoh_ dilakukan, tiba-tiba datang seorang ibu ke masjid tersebut. Dia menyumbangkan uang dengan akad infaq untuk masjid. Jumlahnya sama persis dengan minus kas masjid, 20 juta rupiah! _Laa haula walaa quwwata illah billah_.

***

*Kisah nyata yang penulis dengar langsung dari ketua DKM Masjid itu.

Bondowoso, 28082021



2 komentar:

  1. Seru juga menikmati pentigraf. Singkat dan padat namun sarat makna.

    BalasHapus