Kamis, 29 April 2021

Mengasah Mental Guru Menulis

 



Ditta Widya Utami, S.Pd.Gr. adalah salah satu guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Lahir di Subang, 23 Mei 1990. Menikah dengan Muhammad Kholil, S.Pd.I. dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Muhammad Fatih Musyfiq. Selain aktif di MGMP, penulis juga aktif di bidang literasi. 

Sebagai guru IPA ternyata Ditta WU mempunyai prestasi banyak dalam bidang kepenulisan. Beberapa buku tunggal sudah diterbitkan dan selebihnya buku bersama (Antologi). Beberapa penghargaan literasi juga diperolehnya antara lain :

Peraih Parasamya Susastra Nugraha (100 Guru Penulis Jawa Barat) - 2020Peraih Parasamya Suratma Nugraha (Penggerak literasi) - 2020Penghargaan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kab. Subang sebagai donatur buku - 2020Penghargaan Bupati Subang (2020) diusulkan Disdikbud Kab. SubangPenghargaan Bupati Subang (2021) diusulkan Disarpus Kab. Subang

Karya tunggal  antara lain :

Precious (2017-2019), a novel 12 chapter - Mengapa Tak Kau Tanyakan Saja (2019), a short story 10 chapter - Djogja Backpacker (2019), a short story 5 chapter -Buku "Lelaki di Ladang Tebu" (2020), kumpulan cerpen pendidikan (silahkan cek Instagram @dittawidyautami untuk melihat testimoninya) Buku "Membongkar Rahasia Menulis" (2021), kumpulan tulisan selama mengikuti lomba blog PGRI bulan Februari Buku "Sepenggal Kisah Corona : Memoar Perjalanan Hidup Selama Satu Tahun Pandemi" (proses cetak)

Buku karya bersama antara lain :

Jejak Langkah Guru Subang (2019) - kumpulan best practice, MGMP IPA Subang Guru di Ladang Ilmu (2019) - kumpulan cerpen karya guru, Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB) Sepenggal Kisah di Ruang Cipta Pentigraf (2020) – KPPJB Dari Mata Air Hingga Muara (2020) - Literasi Subang Bihari dan Berwibawa (Lisangbihwa) Pelangi Jiwa (2020) - kumpulan kisah inspiratif, KPPJB Pena Digital Guru Milenial (2020) - kisah para guru blogger, PGRI Menyongsong Era Baru Pendidikan (2020) - bersama Prof. Eko Indrajit Pola Pembelajaran yang Efektif dari Rumah (2020) - Hasil Lomba Blog Hardiknas (PGRI)  Sumbu Saihu Lisangbihwa (Jan 2021) - antologi puisi Saihu, Saihula, Saihudan bersama Lisangbihwa

Dendang Asa Dalam Untaian Kata (Jan 2021) - antologi pentigraf bersama KPPJB Regional Subang Meniti Asa : Kumpulan Kisah Awal Menjadi Guru (Feb 2021) - KPPJB

Alamat beliau  :
Email : dittawidyautami@gmail.com Blog : Blogspot dan Kompasiana 

YouTube : ditta widya utami Instagram/Twitter : @dittawidyautami LinkedIn : Ditta Widya Utami

 

Pembahasan pertama adalah mengenal hubungan antara tehnik menulis dan mental penulis. Gambarnya adalah berikut :


Teknik menulis yang saya maksud mencakup kemampuan seseorang dalam menulis. Mulai dari pemilihan kosa kata, kemampuan membuat outline, pemahaman mengenai gagasan utama, berbagai jenis tulisan, serta pengetahuan lain yang bersifat teknis. Sedangkan mental penulis merujuk pada kondisi psikologis atau batin si penulis itu sendiri.

Untuk mental seorang penulis menurut Ditta sedikitnya ada 5 :

1.     Siap konsisten

2.     Siap Dikritik

3.     Siap Belajar

4.     Siap Ditolak

5.     Siap menjadi “unik”

Semua itu sudah dirangkum dalam sebuah outline atau mind map berikut

Sebelum membahas mental penulis perlu diketahui dahulu 4 jenis tipe penulis :

1. Dying writer

2. Dead man

3. Sick people

4. Alive

Penjelasannya :

Tipe pertama adalah Dying Writer atau penulis yang sekarat. Termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang lemah secara teknik pun lemah mentalnya sebagai seorang penulis.

Seolah hidup segan mati tak mau. Misalnya ikut pelatihan menulis setengah hati (lemah mental) dan tidak berkarya membuat tulisan (yang bisa jadi karena lemah teknik, tidak tahu bagaimana harus menulis, mendapatkan ide, dsb)

Tipe ini bukan berarti tak mampu membuat tulisan. Hanya saja, diperlukan upaya ekstra agar orang-orang ini "mau" hidup sehat kembali untuk menulis.


Tipe kedua adalah Dead Man. Sesuai namanya, tulisan dari kategori ini "mati". Tidak diketahui keberadaannya. Terkubur di folder laptop. Terbungkus lembaran diary. Atau notes yang ada di hp. Belum terpublish.

Tekniknya ada (sudah mampu menulis), hanya mentalnya masih lemah (malu, takut dikritik dsb) sehingga tidak berani mempublish tulisan. Belum berani membuat buku atau artikel. Padahal ilmu tentang kepenulisannya sudah mumpuni.


Tipe ketiga adalah Sick People. Orang-orang dalam kelompok ini adalah yang masih lemah teknik menulisnya namun sudah cukup memiliki mental seorang penulis sehingga sudah berani mempublish tulisannya.

Mereka sudah siap jika ada yang mengkritik, mengomentari tulisan mereka dan sejatinya sadar masih terdapat kekurangan dalam tulisannya.

Misal typo, penggunaan kata yang sama berulang kali, paragraf yang terlalu panjang, dsb.

Obat bagi kategori ini tentu saja terus menulis. Tingkatkan jam terbang dalam menulis. Insya Allah dengan sendirinya akan sembuh.

Karena semakin banyak menulis, semakin banyak review, semakin banyak baca, sehingga bisa meminimalkan kesalahan dalam penulisan karya.


Terakhir tentu saja kategori terbaik, yaitu Alive, yaitu penulis yang tulisannya hidup dan senantiasa berkarya seperti jantung yang terus berdetak saat pemiliknya bernyawa. Orang-orang dalam kelompok ini sudah bisa dikatakan "ahli" menulis (kuat teknik) serta kuat mentalnya. Cirinya mudah. Meski tingkatan ahli ada pemula, menengah dan sangat ahli, tapi secara umum kita bisa mengenali mereka.

 

Misal saat menulis sudah seperti kebutuhan primer seperti makan. Ibaratnya, jika tak makan akan lapar. Begitu pula mereka yang hidup dalam menulis. Akan lapar menulis bahkan jika sehari saja tak membuat tulisan. Ciri yang paling kentara dari kelompok ini tentu saja seperti juara lomba menulis, bukunya tembus di jurnal nasional, di media massa, dsb.

Kelompok Alive ini termasuk kategori pembelajar sejati. Selalu berproses. Mampu hadapi tantangan menulis (meski puasa tetep nulis, walau sibuk menyempatkan nulis, dsb)  Omjay, Mr. Bams, Bu Kanjeng, Pak H. Thamrin, moderator hebat kita kali ini Bu Aam, bahkan Bapak dan Ibu yang selalu bisa membuat resume bisa dikatakan dalam kategori ini. Apakah kita bisa menjadi alive? TENTU BISA! Yang penting terus aktif menulis dan pupuk mental penulisnya.

Bapak dan Ibu yang mengisi kuesioner pasti tahu bahwa salah satu pertanyaan saya adalah "Apa yang Anda takutkan ketika menulis/mempublish tulisan?"

Ternyata dari 30 jawaban yang masuk, sebagian besar bisa dikategorikan menjadi 2 macam ketakutan, yaitu :

1. Takut terkait teknik penulisan (misal takut tidak sesuai kaidah penulisan, tidak sesuai aturan penerbit, alur dan pesan tulisan yang masih belum tampak, serta ketakutan lain yang sejenis)

2. Ketakutan yang berhubungan dengan (penilaian) dari orang lain. Misalnya takut dicemooh, diejek, tidak dibaca, dsb.

Sedangkan 3 orang lainnya menyatakan tidak memiliki ketakutan. Nah inilah yang patut kita contoh.

Teknik menulis akan membaik jika kita sering berlatih menulis. Mental penulis akan terbentuk ketika kita terus melatih diri mempublikasikan tulisan kita untuk dibaca oleh orang lain. Jika mau jadi penulis hebat, kita harus mau meningkatkan teknik dan mental menulis kita.

Nah, masuk ke bahasan kedua tentang Naluri Penulis, saya akan berangkat dari pengertian naluri menurut KBBI online.

na·lu·ri n 1 dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting; 2 Psi perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup;

Penulis sejati berangkat dari keresahannya. Membuatnya berbuat melalui "tulisan". Ia mengubah dunia dengan tulisan. Mengubah orang-orang melalui goresan tintanya.

Orang yang memiliki naluri penulis, akan mengoptimalkan seluruh inderanya sehingga bisa menghasilkan karya berupa tulisan. Ada banjir yang melanda, dilihat di depan mata banyak orang mengungsi dsb, kemudian tergerak membuat tulisan.

Itu adalah contoh sosok yang memiliki naluri penulis.Ada lagu syahdu yang bisa menjadi renungan, ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Ini pun contoh naluri  penulis.

Kenali diri Anda dan lingkungan Anda, lalu buatlah tulisan. Maka karya karya yang kita hasilkan akan mengasah naluri penulis dalam diri kita. Nah, ini ada oleh oleh dari saya terkait hasil kuesioner yang mungkin bisa jadi bahan renungan untuk kita semua.

Berbicara mengenai sikap mental menulis perlu diupgrade terus seperti harus memasang target waktu capaian dll. Saran saya upgrade niat/target menulisnya. Membuat resume di pelatihan ini kan tidak dibatasi waktu. Itulah enaknya pelatihan ini. Artinya, jika belum sempat menulis hari ini, kita masih bisa menulis resume esok atau lusa. Meski baiknya di hari yang sama agar materinya masih hangat di kepala.

Agar tidak cepat down, buat target yang lebih besar. Misal jika mulanya hanya ingin membuat resume, upgrade jadi membuat buku dari resume. Maka, meski telat, insya Allah kita akan tetap semangat membuat resume karena punya target yang lebih besar. Semakin detail tujuan/target semakin bagus. Catumkan saja kapan buku resume akan dicetak, penerbit mana, berapa halaman, dsb. Insya Allah memotivasi untuk selalu menulis.

Nah untuk Bapak/Ibu yang sibuk, tapi masih ingin menulis, saran saya selalu bawa catatan atau alat untuk mencatat sesuai kenyamanan bapak/ibu. Ide bisa datang dari mana saja toh? Seperti Omjay yang bahkan sedang antri pun masih bisa membuat tulisan.

Kalau kita membawa catatan, setiap ada ide, minimal tuliskan garis garis besarnya. Pikiran pokok yang akan kita tuangkan. Bisa di buku catatan, hp, atau laptop (sesuai nyamannya bapak/ibu). Bisa juga dengan merekam suara bapak dan ibu. Yang penting, pokok atau ide idenya dituangkan dulu.

Kalau sudah ada ide pokoknya, maka di waktu luang bisa kita kembangkan menjadi tulisan.

Bagus sekali cerita tentang mental penulis dan teknisnya. Ternyata dua hal itu sangat berhubungan. Karena  kasusnya ada yang seseorang sudah down duluan dalam menulis karena tidak menguasai teknik menulisnya. Intinya seorang penulis yang sukses harus mempunyai mental baja. Seperti apa mental baja itu berikut saya kutipkan artikel om Jay di bulan Ramadhan tahun 2021 ini.

Puasa Ramadhan hari kesebelas membuat saya termenung sejenak. Menjadi seorang penulis itu harus memiliki mental baja. Tidak cepat putus asa untuk mendapatkan mahkotanya.

Buku adalah mahkota seorang penulis. Tidak mudah meraihnya bila anda tidak fokus mengerjakannya. Saya mencicilnya dengan cara menulis setiap hari. Atau membuat resume dari pakar yang sudah berpengalaman dalam dunia tulis menulis.

 Puasa di hari kesebelas ini, membuat saya yakin akan semakin banyak guru yang akan menjadi penulis hebat. Mereka mau belajar bersama dan mampu mengalahkan dirinya untuk tidak malas dalam menulis. Teruslah bekerjasama dalam jaringan guru-guru hebat Indonesia. Saya temukan mereka di acara HUT PGRI bersama presiden Jokowi.

Jangan keluar dari barisan. Ikuti aba-aba para mentor menulis yang baik hati. Jadilah makmum yang baik. Ikuti perintah imam agar tidak salah dalam mengerjakan tugasnya. Mereka mengajar dengan hati dan itulah yang membuat mereka menjadi orang besar.

Dulu saya belajar kepada para penulis hebat. Saya menjadi murid mereka. Tidak bisa mengerti materinya, saya banyak bertanya. Hasilnya banyak buku yang sudah saya terbitkan. Baik di penerbit mayor maupun di penerbit indie.

Kalau nanti sudah menjadi penulis ternama, jangan lupa untuk berbagi ilmunya. Jangan seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Sebab di atas langit ada langit. Tidak ada orang hebat dan sukses yang bekerja sendirian.

 Teruslah berbagi ilmu dan pengalaman. Teruslah menjadi orang yang rendah hati dan mau berbagi. Tanggalkan baju kesombonganmu dan kosongkan gelasmu untuk menambah ilmu. Isi selalu pikiranmu dengan pikiran yang positif supaya hasilnya positif.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Mereka adalah pembaca yang lahap. Teruslah membaca karya tulis orang lain. Manfaatkan bulan Ramadhan ini dengan aktivitas yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Jadilah guru tangguh berhati cahaya. Guru yang tak mudah mengeluh dengan berbagai ujian dan cobaan.

Hari kesebelas puasa di bulan Ramadhan membuat saya menjadi lebih sabar dan bijaksana. Tidak mudah marah dan menyalahkan orang lain. Banyak hikmah yang saya dapatkan dari hasil membaca tulisan orang lain. Saya pun mengucapkan selamat hari buku internasional. Kelak buku digital akan menjadi buku yang akan semakin banyak dibaca orang banyak dan ada dalam ponsel pintal masyarakat digital.

 Mental seorang penulis akan diuji dengan karya terbaiknya. Biarkan tulisanmu menemui takdirnya. Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Sebab proses selalu menemani dalam suka maupun duka. Kesabaran dan komitmen adalah kunci untuk meraih kesuksesan.

Hari kesebelas di bulan Ramadhan sudah kita lalui. Perjalanan menuju takwa baru sepuluh langkah pertama. Masih ada 2 langkah lagi menuju kemenangan di hari yang Fitri. Taklukan dirimu dan taklukan hawa nafsumu dari kesombongan dan kepongahan.

 Ingatlah selalu ilmu padi. Kian berisi kian merunduk. Seperti para ulama yang berilmu dan beradab. Mereka selalu belajar untuk menjadi orang yang Sholeh

Demikianlah resume kali ini semoga bermanfaat. Aamiin.

 

Blitar, 29 April 2021

By. Hariyanto

 

Resume ke  : 9 gelombang ke 18

Nara sumber : Ditta Widya Utami, S.Pd, Gr

Disampaikan : Jumat, 23 April 2021 jam 13.00 – 15.00 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar