Selasa, 12 Oktober 2021

PUISI 2.0 "SHALAWAT"


Masjid Jami "Pancasila" Kel. Turi Kota Blitar, dok. 11 Oktober 2021

SHALAWAT   untuk Nabi Muhammad SAW kami lantunkan pada malam itu. ALhamdulillah semua berjalan dengan lancar..  Salam untumu ya Rasulllullah. Kami nantikan syafaatmu wahai Rasulullah di yaumuil akhir...tatkala tiada satu pun makhluk-Nya bisa dimintai tolong. 

Alhamdulillah shalawat malam pun jadi puisi. Ya puisi singkat tidak lebih 20 kata, dinanakam puisi 2.0.

PUISI 2.0  MEMAHAMI PUISI SATU OBYEK

 

Begitu mengenal jenis puisi 2.0 saya tertarik mempelajarinya. Puisi yang mensyaratkan tidak lebih dari 20 kata ini begitu ringkas. Bentuknya sederhana karena hanya melihat satu obyek untk satu judul puisi.....motto PUISI 2.0 adalah

Ø SATU PUISI

Ø SATU OBYEK

Ø SATU SUDUT PANDANG

 

Puisi ini dikreasi  dan digagas oleh Dr. Endang Kasupardi saat menyelesaikan studi S3 di UPI 2010. 

Puisi ini lahir sebagai antisipasi jawaban atas perkembangan zaman yang serba cepat dan digital dengan tingkat kesibukan orang yg luar biasa. Dgn kondisi ini ke depan tidak ada lagi waktu untuk menulis atau membaca dan menikmati puisi yang panjang. Bagaimana caranya dalam waktu terbatas orang masih sempat menikmati puisi, maka solusinya harus dibuat puisi yang hemat kata tapi bermakna. Atas dasar itulah lahir puisi yang hanya maksimal 20 kata tapi bermakna.

Kali ini saya persembahkan  puisi 2.0 semoga bisa menghibur hati dan menikmatinya. Aamiin.

SHALAWAT

Oleh. Hariyanto

 

Kidung shawalat

Menjadi penyejuk hati

Di segala masa

Menghimpun doa

Maha Pencipta

Menitahkan Malaikat-Nya

Bersama manusia

Malam ini pun

Bershalawat.

 

Blitar, 12.10.21

 


MENTARI PAGI INI

Oleh. Hariyanto

 

Pagi ini cahyamu

Temaram

Ada mendung menghadang

Berarak

Seperti pasukan perang

Berparade

Ke medan laga

Mentari

Sibuk menghalau

Debu

 

Blitar, 12.10.21

 

 

SEBATANG POHON RAMBUTAN

Oleh. Hariyanto

 

Sebatang pohon Rambutan

Daunnya lebat merindang

Diterpa hembusan

Semilir angin pagi

Seribu kicauan

Burung bernyanyi

Simfoni pagi

Mentari tersenyum

 

Blitar, 12.10.21

 

NEW NORMAL

Oleh. Hariyanto

 

Era baru

Ada rasa

Ada cita-cita

Hilang

Atau bahkan

Kita tanggalkan

Dan masker itu

Tetap saja

Mengikuti

 

Blitar, 12.10.21

 

 

 

                                     

 

 

 

BUAH TANGAN

Oleh. Hariyanto

 

Ketika salam erat berpadu

Ada yang tersisa

Mengganjal

Dalam relung rasa

Buah tangan

Menjadi perekat

Seribu kenangan

 

Blitar, 12.10.21

 

SENYUMAN

 

Sebuah perjuangan

Terkadang tak menemukan jalan

Meski sedikit

Seyummu

Adalah limpahan energi

Tak terlihatkan

Bahwa bukti

Sudah menyenangkan hati

Orang.

 

Blitar, 12.10.21

 

 

 


3 komentar:

  1. Sebagai sebuah inspirasi yes okey, walaupun dalam hal pembatasan 20 kata, kalimatnya mayoritas tersusun tak lebih dari 2 kata bagi pribadi saya yang lebih suka pada puisi ala-ala Gus Mus atau D Zawawi Imron kesannya kering.

    Belakangan pula kita mengenal pentigraf. Sebuah cerpen yang sangat simpel sebab hanya 3 paragraf. Okey. Ini bagian perkembangan seni dan budaya yang tak mungkin kita melewati ya begitu saja.

    Selamat Berkreasi

    Maaf pendapat sangat pribadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berbagi di blog ini. Sebagai pendapat pribadi sah saja. Memang sebagai karya sastra, ditulis berdasarkan imajinasi seseorang penulisnya. Produk tulisan itu pun bermacam model, jika puisi itu pun beragam, jika cerpen ada pentigraf. Saat ini mungkin saya sebagai penulis sedang menyukai pentigraf dan puisi 2.0. karena kesederhanaannya. Bisa jadi betul....puisi akan kering...karena terlalu singkat menggambarkannya. Tetapi untuk melatih diri mempertajam tulisan atas satu obyek atau kejadian dalam batas kata tertentu adalah sah juga. Dan sementara ini saya menikmatinya. Ya anggaplah ini sebagai curah pendapat dari sebuah diskusi, salam literasi

      Hapus