Rabu, 09 Juni 2021

Kumpulan Karya Puisi Selasa > 7 Juni 2021 .....Ternyata ada PANTUN

 

SALAM LITERASI

Alhamdulillah Anak-anak masih semangat berkarya sampai hari . Malahan hari ini berbagai jenis karya mereka kirimkan, ada puisi, aa pantun dan ada gambar-gambar. Semuanya bagus. Jika menulis puisi memang masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, tetapi sedikit sekali. Hal ini menunjukkan perkembangan yang bagus. Semoga mereka semakin trampil berkreasi.  Aamiin

PANTUN, ya sampai malam ini ada 2 siswa berkirim karya berupa pantun, yaitu Marcheline Bintari dan Vidiansyah. Ini menarik, karena kami dari tim literasi belum sempat menjelaskan tentang cara membuat pantun dan mengenalkannya, tetapi mereka dengan segala keterbatasannya mampu menuliskannya..

Nah malam ini tim literasi ingin menjelaskan sedikit tentang pantun.  Pantun adalah salah satu bentuk puisi lama asli Indonesia. Terdiri dari 4 baris dalam satu bait. Setiap bait memiliki pola akhiran  ab ab. Baris  1 dan 2 berisi SAMPIRAN dan baris 3 da 4 adalah ISINYA.

Berikut saya kuitipkan dari “ruangguru.com” tentang pantun :

Pernahkah kamu menonton acara lenong di televisi? Atau ketika salah seorang di acara televisi berinteraksi dengan penontonnya sambil berteriak: “Oi penontoooon!”

Biasanya, sapaan tersebut akan dilanjutkan kalimat-kalimat berima seperti misalnya,

Jalan-jalan ke rumah nenek. Pulangnya membeli semangka. Muka boleh keliatan jelek. Tapi hati siapa yang sangka?

Sehabis ngomong, para penonton bertepuk tangan riuh.

Pantun adalah salah satu puisi lama yang tersusun dari empat baris, berisi sampiran dan isi, dan mempunyai rima a-b-a-b. Oke, oke, kita akan bahas satu per satu ya. Dari mulai apa itu sampiran dan isi, rima, dan bagaimana cara cepat membuat pantun dengan mudah.


Supaya lebih mudah membahas pengertian pantun serta berbagai kata aneh seperti “Sampiran” dan lainnya itu, lebih baik kita langsung membedah salah satu pantun berikut ya:

 

Jalan-Jalan ke rumah nenek

Pulangnya membeli semangka

Muka boleh kelihatan jelek

Tapi hati siapa yang sangka?

 

Jika kita memecah pantun tersebut menjadi dua bagian, maka akan terlihat dua bagian yang berbeda. Bagian pertama akan seperti ini:

Jalan-jalan ke rumah nenek

Pulangnya membeli semangka

Setelah kita pecah, bagian pertama ini, kalau kita perhatikan, seperti tidak mempunyai makna apapun. Dua baris awal ini lah yang disebut “sampiran” dalam puisi. Tujuan dari sampiran adalah memancing pembaca atau pendengar mengetahui “makna sebenarnya” yang akan disampaikan pada dua kalimat selanjutnya.

Sementara bagian kedua dari pantun tadi:

Muka boleh keliatan jelek

Tapi hati siapa yang sangka?

Kedua baris ini merupakan “isi” dalam pantun. Baris ini lah yang sebetulnya ingin disampaikan oleh sang pembuat pantun. Jadi, ketika pantun ini dibacakan, orang-orang akan menyadari “Oh, berarti hati seseorang lebih penting daripada fisiknya.” Bukannya “Oh, kalau dari rumah nenek kita akan beli semangka.”

Hal lain yang penting dalam pembuatan pantun adalah bagian rima a-b-a-b. Kalau kamu perhatikan, dalam pantun “Siapa Sangka” tadi, rima akhir kalimatnya berupa “ek”, “ka”, “ek”, dan “ka”. Pengulangan ini disebut dengan a-b-a-b.



Lain halnya kalau kamu membuat pantunnya menjadi;

Jalan-jalan ke rumah nenek

Pulangnya membeli cobek

Muka boleh keliatan jelek

Udah jelek, peliharannya bebek

Rima yang ada di atas termasuk ke dalam a-a-a-a. Itu artinya, sesuai dengan ciri-ciri pantun yang ada, kalimat tersebut BUKAN tergolong ke dalam pantun. Selain tidak termasuk ke dalam jenis pantun, isinya ngeledekin orang dan tidak nyambung. Jahat! Bisa-bisa orang yang baca jadi sakit hati.

Gimana, sudah mulai paham struktur dari pantun, ‘kan?

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara membuat pantun dengan cepat dan mudah?

Untuk bisa membuat pantun dengan kecepatan tinggi seperti artis lenong atau komedian di televisi, tentu hal yang perlu kamu pikirkan pertama kali adalah: tema!

Tentukan jenis pantun yang mau kamu buat. Kamu bisa saja membuat jenis pantun nasehat, pantun asmara, atau jenis pantun jenaka seperti pada contoh di atas. Setelahnya, buatlah isi (dua kalimat akhir) dari pantun kamu.

Contohnya, kalau kamu ingin membuat pantun tentang “Larangan Membuang Sampah”, dua kalimat akhir (isi) dari pantun kamu bisa saja menjadi:

Siapakah ini yang buang sampah

Apakah dia tidak memikrkan kotornya?

Setelah mendapatkan dua baris ini, langkah selanjutnya adalah membuat sampiran pantunmu. Untuk membuat sampiran ini, kamu perlu memerhatikan rimanya terlebih dahulu. Carilah kata-kata yang berakhiran sama dengan “sampah” untuk kalimat pertama dan “kotornya” untuk kalimat kedua. Sehingga pantun kamu menjadi lengkap seperti ini:

Pohon mangga banyak getah

Di bawahnya ada si nyonya

Siapakah ini yang buang sampah

Apakah dia tidak memikirkan kotornya?

Kalau kita rangkum, urutan membuat pantun dengan cara cepat adalah seperti ini:



Nah, ternyata semudah itu ya cara membuat pantun dengan cepat dan mudah.

 

Nah berikut karya temanmu yang terkumpul malam ini. Coba tebak sudah bisa disebut pantun atau belum  ?

Pantun
@karya Marcheline Bintari kelas 4

Beli roti di pasar legi
Ada katak melompat lompat
Mari kita lari pagi
Supaya badan kita sehat

Yang ke 2 karya Vidiansyah berikut :

Adab Pantun

@karya : Vidiansyah PP

Kalau lapar bolehlah makan
Kalau haus bolehlah minum
Hendaklah kita bersikap sopan
Itulah adab di muka umum

Jawabnya : Ternyata BETULLL. Tepuk Tangannnnn !!!

Coba cocokkan dengan teori di atas. Mudah kan membuatnya. Cobalah sendiri di rumah membuat pantun.

SALAM LITERASI

 

Blitar, 8 Juni 2021

TIM GLS Turi Berseri   TOLC

Ketua ; Drs. Hariyanto

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar