Rabu, 30 Juni 2021

Pedagang Sate

 

Pedagang Sate

#Hariyanto_pentigraf

 

“Sate-sate......!” begitu khas suaranya menawarkan sate kepada para pelanggannya. Kaos loreng ciri khasnya dan berbaju hitam diluarnya, Betul dialah pak Udin penjual sate ayam di kampung kami.

 

Ketika tidak di ujung kampung, jalanan sepi dan gelap belum ada listrik sama sekali. Hanya  ada dua rumah di ujung kampung itu. Satu di sisi Kanan jalan dan satu di sisi kiri. Penerangan pun masih dari “ublik” yaitu lentera kecil berbahan bakar minyak tanah. Jalanan pun masih tanah berdebu, belum ada aspal.

 

Malam itu angin pun seperti enggan bergerak. Suara serangga seperti belalang pohon nangka dan gangsir menjadi lebih kentara. “Sate-Sate....!” suara itu seperti tertelan sepinya malam . Udara dingin yang mulai menusuk kulitnya pada sekitar jam .09.00 malam membuat bulu kuduk berdiri. Betul juga di saat Pak Udin  hampir memasuki kampung, tiba-tiba pohon bambu di sebelah kanan jalan merunduk persis di depannya. Pak Udin pun terkejut bukan kepalang, lalu berlari sekuat tenaga. Tapak kakinya seolah berada di atas tanah. Napasnya tidak teratur ketika sekelompok orang kampung memapahnya. Pak Udin pingsan tidak ingat lagi sepikul satenya yang ditinggalkan di  ujung kampung. Dia baru saja melewati ladang kosong dengan serumpun bambu dekat kuburan kampung. Semua orang tua pasti ingat cerita itu puluhan tahun lalu termasuk anak pak Udin yang sekarang menggiring gerobak satenya.

 

Blitar, 30 Juni 2021

hariyanto

1 komentar:

  1. Flash back ya Pak? Mudah2n anak Pak Udin gak ngalamin hal2 seperti itu ya, Pak.🙂

    BalasHapus