Kamis, 10 Juni 2021

MENULIS ITU GAMPANG

 




Menilik judul pelatihan malam ini teringatlah akan judul buku lama  “MENGARANG ITU GAMPANG,” karya Arswendo Atmowiloto buku tahun 1980 –an. Judulnya sangat menginspirasi dan menyemangati. Tentu sepertilah harapannya untuk pembaca. Cover buku lama menggambarkan seseorang sedang sibuk dan gigih menulis dengan sebuah mesin ketik biasa. Sementara zaman sudah berubah tentunya saat ini semua sudah menggunakan key board latop atau layar android. Semua demi sebuah tulisan. Betul bahwa malam ini dengan judul ini beliau menginginkan semua peserta menjadi MAU dan MAMPU menulis.

Lihatlah clossing statement beliau malam itu: “Beliau mengajak kita semua untuk terus menulis. Pokoknya menulis. Jangan pedulikan mutu dulu. Bangun tradisi menulis dulu baru mutu akan mengikuti. Bisa menulis itu anugerah. Ada sangat banyak manfaat yang bisa kita rasakan. Yakinlah. Insyaallah berkah untuk kita semua. Amin.”

Ini adalah kesimpulan beliau setelah sekian tahun menulis yaitu mampu mengantarkannya ke berbagai wilayah sampai ke luar negeri. Bisa bertemu sahabay banyak dan bersilaturahmi dan banyak manfaat lainnya yang mengikuti. Begitu juga ketika ditanya tentang buku yang laku dan cara menjualnya, beliau mengatakan bahwa untuk mahasiswanya tidak pernah memaksa membeli bukunya, justeru mahasiswanya yang memesannya dan lalu mencetak sesuai pesanan. Buku akan menemukan takdirnya, anugerah dari menulis buku bukan hanya berbentuk uang.

Menulis bagi beliau harus disertai kegiatan membaca. Ada hubungan yang kuat antara banyak membaca dengan mutu dan  kualitas tulisan. Membaca bisa membuka wawasan sekaligus memberikan energi baru.

Menjawab pertanyaannya peserta beliau menjelaskan untuk merawat konsistensi menulis dengan membangun keyakinan setiap hari bahwa menulis itu memberikan berkah. Beliau bisa seperti sekarang ini karena--salah satunya-- aktif menulis. Beliau merasakan betul manfaat menulis. Bahkan beliau bisa mengunjungi banyak kota di Indonesia, juga beberapa negara, karena menulis. Ini yang beliau tanamkan agar terus menulis.

Prinsipnya menulis itu ya nulis saja. Salah satu buku yang cukup berkesan adalah PROSES KREATIF PENULISAN AKADEMIK. Buku ini entah sudah cetak berapa ribu eksemplar, padahal beliau terbitkan sendiri. Ada sebuah universitas di Lombok yang sudah tiga tahun berturut-turut menjadikan buku ini sebagai bacaan bagi mahasiswanya. Tentu ada banyak buku lain yang juga beliau suka.

Menghadapi teman yang memandang sebelah mata? Ya nggak perlu kita pandang dan tanggapi.Yakinlah kalau kita nulis akan membuat manfaat untuk kita. Beliau sudah tidak peduli apa buku beliau laku atau tidak, ada yang baca atau tidak. Tapi beliau yakin bahwa SETIAP TULISAN PUNYA TAKDIR PEMBACA SENDIRI. TULISAN MENJADI PEMBUKA PINTU REZEKI. Rezeki tidak harus berupa uang. Teman itu juga rezeki. Kalau tidak karena menulis beliau tidak akan kenal Bu Aam, Bu Maesaroh, Omjay, dan banyak kawan-kawan yang lain.

Pak Ngainun Naim ternyata putra Tulungagung, kelahiran 1975. Pendidikan  S3nya diselesaikan di UIN Sunan Kalijaga, serta memiliki segudang prestasi yang brilian. Saat ini berprofesi sebagai dosen di IAIN Tulungagung.  Sudah menulis buku tunggal lebih dari 40 judul baik buku ajar maupun buku umum. Beberapa puluh buku karya antologi.

Kebiasaan beliau sampai saat ini adalah menulis setiap hari minimal 5 paragraf. Cukup lima paragraf. Tentu lebih banyak itu lebih bagus. Saya punya kawan yang saya mentori yang sudah satu setengah tahun menulis setiap hari 5 paragraf. Hasilnya beliau sudah menerbitkan 3 judul buku.Menulis itu tidak harus selesai sekaligus, satu kali duduk. Terkadang tulisan itu di tulis  di atas Bus karena menemukan sebuah ide. Dicatat beberapa kalimat dengan istilah “ngemil tulisan.”

Tulisan yang bagus itu lahir dari kekayaan bacaan. Tulisan yang menarik tidak lahir begitu saja. Intinya ya banyak membaca dan banyak menulis. Semakin banyak membaca dan semakin banyak menulis maka akan semakin bagus tulisan kita.

Kesulitan tema? Tulis saja kegiatan sehari-hari. Itu sudah tema. Contohlah Omjay. Beliau tulisannya deras mengalir bak air hujan. Sangat produktif. Apapun yang beliau lakukan jadi tulisan. Atau kurang PD, maka ini pengalamannya bahwa  dulu juga mengalami. Lalu beliau  rubah pola pikirnya.Pokoknya nulis saja. Ketakutan kita itu dari pikiran kita sendiri. Orang lain biasanya nggak peduli atau nggak seperti apa yang kita bayangkan. Jadi pikiran kita sudah menyimpulkan terhadap sesuatu yang tidak terjadi. Cara meningkatkan kualitas? Menulis sebanyak-banyaknya nanti kualitas mengikuti. Mustahil menulis berkualitas jika jarang menulis. Mustahil juga bermanfaat jika tidak pernah menulis. INTINYA MARI MENULIS SEBANYAK-BANYAKNYA, nanti kualitas dan manfaat akan mengikuti.

Anda bisa menulis pengalaman hidup sehari-hari. Bisa juga menulis renungan dari apa saja yang Anda amati. Jika ada yang memberikan kritik, jadikan sebagai pelecut untuk perbaikan tulisan berikutnya. Jangan marah atau putus asa. Jadi penulis itu seharusnya bermental baja.”

Jadi menulis gampang bukannya tanpa halangan. Hanya bagaimana kita bisa menulis sambil menghilangkan semua tantangan itu salah satu ada di hati yaitu NIAT kuat dan SYUKUR. Kunci utamanya NIAT YANG KUAT. Beliau menikmati setiap tahapan hidup ini dengan penuh syukur. Sesibuk apapun upayakan menulis sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT. bisa menulis itu anugerah. Banyak yang ingin bisa tetapi tidak bisa-bisa maka penting menata niat untuk berjuang menulis.

Tips Menulis mudah

Pertama, carilah ide yang menarik di pikiran Anda. Bisa dari teman sekitar, sekolah, tugas, dan lingkungan sekitar

Kedua, ikat ide itu dalam bentuk tulisan. Ide itu kuncinya segera ditulis, jangan dibiarkan, nanti hilang.

Ketigahilangkan rasa takut, malu, atau khawatir tidak sesuai ejaan. Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis. 

Keempatedit tulisan itu. Kapan ngeditnya? Tidak harus seketika itu. Jadi ada waktu sendiri.

Menurut Pak Ngainun Naim, tulisan itu lahir karena beliau:

1.    Pernah membaca ulasan dalam topik yang sama

2.    Mengolahnya menjadi tulisan

3.    Bisa menulisnya karena menguasai topik tersebut

4.    Membangun kebiasaan produktif

5.    Ditulis sedikit demi sedikit alias “ngemil”


 

Mari kobarkan semangat menulis setiap hari

Luangkan waktu, bukan menunggu waktu luang

Begitu pesan narasumber,

 

Penjelasan pelengkap beliau ada di sini 


https://www.youtube.com/watch?v=LxSY0y8MPjI&t=21s

 

Blitar, 10 Juni 2021

Hariyanto

Resemu  ke  23

Narasumber : Dr. Ngainun Naim

Hari tanggal : Rabu, 9 Juni 2021

 

1 komentar: